Senin, 12 Maret 2012

Setiap kita berbakat jadi Pengusaha...



Setiap orang berbakat jadi pengusaha.
Menjadi pengusaha adalah bakat. Begitu aksioma sebagian orang rentang profesi yang sangat menantang ini. Menjual adalah bakat, katanya. Benarkah demikian? Saya termasuk orang yang tidak terlalu mempercayai aksioma tersebut. Landasan berpikir saya adalah, coba kita renungkan bersama hal-hal sebagai berikut:
Pertama: Kita adalah pemenang dari 150 juta sperma.
Sperma sebanyak itu mati dan tak bisa memenangkan kompetisi mererebut ovum (sel pembuahan reproduksi wanita) kecuali satu sperma, yakni sperma yang kemudian menjadi kita seperti saat ini. Perjuangan sperma yang melelahkan, memakan waktu yang panjang, penuh halang rintang dengan proses yang berkelok dan berliku-liku.
Akhirnya perjuangan itu pemenangnya adalah kita yang sampai hari ini masih bisa menghirup udara yang gratis diberikan Allah untuk bekal hidup kita. Sebagai pemenang kompetisi melawan jutaan sperma, mestinya kita bangga dan memiliki rasa percaya diri yang tinggi dalam menatap kehidupan ini.
Kita oleh Tuhan dibekali self confidence yang luar biasa hebatnya, terbukti mampu mengalahkan pesaing yang sangat luar biasa banyaknya. Namun kenapa semua itu tidak tumbuh subur dalam pribadi kita begitu kita menapaki kehidupan di dunia ini? Adakah kita telah lupa dengan sejarah fitrah penciptaan kita? Apakah kita tidak mengambil hikmah atas sepenggal awal kejadian dalam kehidupan seorang manusia, termasuk kita, sehingga kita akhirnya menjadi manusia yang lupa atas fitrah kita, yang sesungguhnya semua itu merupakan modal kemandirian kita?
Jiwa pengusaha yang optimistik, penuh rasa percaya diri, kemampuan untuk mandiri, daya kreasi yang bebas dan kreatif, selalu ingin jadi juara, kemampuan berkompetisi, dll, semuanya adalah faktor dasar yang secara fitri sudah diberikan Allah kepada kita sejak masih berbentuk sperma, yaitu air yang hina, air yang disia-siakan dan air yang ‘tak berarti’.
Faktor-faktor fitrah manusia seperti itu sesungguhnya merupakan modal dasar setiap manusia untuk menjadi pengusaha. Sebab pengusaha memang haruslah memiliki kemampuan dasar seperti itu. Jadi secara fitrah manusia sesungguhnya diberikan Allah satu kemampuan untuk menjadi pengusaha yang sangat luar biasa.
Hanya masalahnya, kenapa kemudian setelah kita dewasa kita merasa tidak percaya diri untuk menjadi pengusaha? Coba kita renungkan kembali kenapa potensi dasar yang sangat luar biasa diberikan Allah untuk jadi pengusaha itu kok tidak berkembang, bahkan yang muncul dan berkembang dalam kepribadian kita adalah kepribadian yang inverior, rasa rendah diri, merasa tak mampu dan takut gagal jadi pengusaha? Bukankah kita sudah pernah menjadi pemenang dengan kompetisi jutaan kompetitor? Kenapa kita lupa kalau kita sesungguhnya diciptakan untuk menjadi pemenang? Kenapa kita tak punya percaya diri untuk menjadi pengusaha dan menang dalam setiap kompetisi? Kenapa daya juang kita melemah padahal sesungguhnya kita dilahirkan sebagai seorang hero (pahlawan)? Saatnya kita mengintrospeksi diri, siapa sesungguhnya diri kita ini?
Kedua: setelah kita lahir yang pertama kita lakukan adalah menangis.
Orangtua kita akan sedih dan menangis, kalau kita semua lahir tidak menangis. Tapi karena kita lahir menangis maka orangtua kita jadi senang.
Apa sesungguhnya makna ‘menangis’ ini dari kacamata pengusaha? Menangis sesungguhnya adalah merupakan aktivitas promosi. Ya, promosi! Kenapa begitu? Karena menangisnya anak kecil itu sesungguhnya upaya anak untuk mencari perhatian dari orangtuanya dan orang-orang lain di sekitar kehidupannya yang baru.
Artinya: Tangisan bayi telah berhasil menjadi aktivitas promosi yang sangat luar biasa efektif untuk memperkenalkan jati diri si bayi pada kurun selanjutnya dari kehidupannya. Dengan demikian, sejatinya sejak lahir kita sudah diberi kemampuan selling yang sangat luar biasa. Karena dengan tangisan sang bayi, akhirnya dia bisa menjual dirinya untuk dibeli dengan perhatian banyak orang di sekitar kehidupannya.
Ketiga: Lingkungan keluarga tidak mendukung tumbuh kembangnya jiwa pengusaha.
Ketika kita kecil orangtua kita menanamkan pendidikan kepada kita dengan pendidikan bukan sebagai calon pengusaha. Coba kita amati para orangtua mendidik anaknya bila si anak main pisau, main api, main martil, panjat pagar, naik pohon, naik genteng, mainan air, dan sebagainya. Apa yang dilakukan orangtua terhadap anaknya yang masih di bawah lima tahun usianya dan anak itu bermain api, air, pisau dsb itu?
Sebagai orang tua apabila kita melihat anak bermain seperti itu, hampir semua kita akan mengatakan, “Jangan! Jangan! Dan jangan!” Apa sesungguhnya yang terjadi dengan pendidikan, Jangan! Jangan! Dan jangan,” itu? Kita sedang berupaya mengecilkan upaya pertumbuhan otak kanan si anak. Peran otak kanan si anak sedang disusutkan lewat pendidikan, “Jangan! Jangan! Dan jangan,” itu. Otak kanan anak akhirnya menjadi mengecil dan jiwa pengusaha tak berkembang semestinya. Hasil dari proses pendidikan, “Jangan! Jangan! Dan jangan,” itu adalah kita menjadi penakut. Kita menjadi orang yang tidak memiliki rasa percaya diri yang cukup. Karena kita tidak memberikan ruang berkembang yang cukup ideal bagi otak kanan, maka akhirnya kini kita menjadi manusia dan bangsa inverior, kurang percaya diri dan tidak berani bersaing secara sehat.
Padahal sesungguhnya pada otak kananlah emotional quation dan spiritual quotion tempatnya berada. Pada pendidikan berbasis otak kananlah sesungguhnya tumbuhnya kreatifitas dan inovasi seorang pengusaha. Imajinasi dan cita-cita calon pengusaha dibangun lewat otak kanan, yang kelak akan sangat berarti bagi kehidupannya membangun “hidup ini menjadi lebih hidup.” Pada otak kananlah perasaan kemanusiaan dibangunsuburkan.
Keempat: kita mengukur kesuksesan hidup secara linier.
Apa yang kita lakukan dengan pendidikan anak berbasis otak kanan? Kita hampir tidak memberikan ruang berkembang yang cukup ideal. Sebab pada kenyataannya banyak orang yang akhirnya mengukur kesuksesan anak bila di kelasnya rangking satu. Anak dinilai hebat, kalau nilai raportnya 9 atau 10, juara satu di kelas atau sekolahnya, dan lulus dengan cumlaude. Orang disebut hebat kalau dia pintar, bergelar sarjana, doktor atau professor. Kita menilai orang dari sisi nilai ijazah dan raport setiap semesternya. Benarkah demikian sesungguhnya dalam hidup ini?
Kelima: semasa masih kecil, orangtua dan keluarga juga menanamkan pendidikan tentang cita-cita anak bukan sebagai calon pengusaha.
Coba Anda amati orang-orang di sekitar kita ketika menanamkan apa cita-cita anak kalau besar nanti. “Apa cita-citamu kalau besar nanti?” Demikian kata mama suatu saat pada anaknya. Papanya juga menambahkan, “Mau jadi apa kalau besar nanti kamu nak?”
Apa yang diajarkan orangtua pada anaknya tentang cita-cita dan hidup masa depan anaknya? Hampir sebagian besar kita akan menggiring anak agar kalau besar nanti jadi pilot, jadi dokter, jadi insinyur, jadi presiden, jadi perawat, jadi guru, jadi polisi dan jadi tentara. Masih dalam kerangka pendidikan yang belum mengeluarkan biaya besar, kenapa kita tidak menanamkan jiwa dan semangat anak dengan memotivasi cita-citanya kelak menjadi pemilik pesawat? Kenapa kita tidak mengajarkan anak agar kelak besar menjadi pemilik rumah sakit? Kenapa kita hanya menempatkan anak dengan cita-cita “cukup sebagai pilot” cukup sebagai perawat dan dokter” dan tidak menjadi pemilik pesawatnya atau rumah sakitnya? Orangtuanya sendiri yang tidak memiliki kemampuan berpikir sebagai pengusaha.
Keenam: Ketika masih di bangku sekolah dasar, kita baru belajar menulis dan membaca, oleh guru diajari dengan pelajaran bukan sebagai pengusaha.
Kita di kelas diajarkan cara menulis dan membaca seperti ini, “Ini ibu Budi.” “Ibu Budi pergi ke pasar membeli roti.” Begitu seterusnya. Guru mengajari kita dengan pengetahuan dasar sebagai “pembeli”. Kenapa guru tidak mengajarkan kita dengan pelajaran menjadi pengusaha, “Ini ibu Budi.” “Ibu Budi pergi ke pasar berjualan roti.” Pelajaran “berjualan” tidak diajarkan dan tidak ditanamkan kepada murid sedini mungkin. Sejak kecil kita diajari untuk menjadi orang yang konsumtif. Kita tidak diajarkan bekerja keras untuk meraih sesuatu. Dari sekolah dasar kita tidak diajari bagaimana bekerja dengan baik dan benar, namun selalu kita diajari untuk menjadi orang yang konsumtif, hedonism dan pragmatis.
Ketujuh: Sejak kelas 1 Sekolah Dasar (SD) hingga perguruan tinggi usai, kita diajarkan menyelesaikan soal-soal setiap kita mau test dan ujian kenaikan kelas atau kelulusan dengan soal-soal yang oleh guru disuguhkan dalam format multiple choice.
Apa sesungguhnya yang sedang diajarkan oleh guru, dosen dan para ahli pendidikan kita itu dengan soal-soal yang multiple choice itu? Kita selalu setiap saat disuguhkan soal-soal seperti itu sesungguhnya kita sedang diproses dan dijadikan oleh guru-guru kita itu menjadi orang yang harus menyelesaikan setiap masalah itu dengan cara instan.
Soal-soal seperti itu dibuat oleh guru dengan alasan yang praktis dan pragmatis, yakni: agar dalam proses mengoreksinya lebih mudah. Apalagi dengan jumlah siswa yang banyak, mata pelajaran yang juga tidak sedikit, maka satu-satunya cara menyelesaikan kurikulum dengan cepat adalah dengan soal-soal multiple choice itu. Apa yang dihasilkan dari keinginan guru yang sekedar ingin praktis dan pragmatis?
Ternyata hasilnya adalah kehidupan yang praktis, pragmatis, instan dan tidak mau bersusah payah untuk meraih tujuan sesuatu yang diinginkan. Guru, dosen dan para ahli pendidikan negeri ini mengajarkan kehidupan yang pragmatis dan konsumtif, maka hasilnya kita menjadi orang yang sangat mengagungkan semua penyelesaian semua masalah ini dengan cara-cara yang pragmatis, instan dan tak mau bersusah payah, tidak mau antri, tidak mau sesuai dengan prosedur, bahkan beberapa hal kita sudah tidak peduli lagi dengan proses.
Kalaulah kemudian setelah dewasa, bangsa ini sudah setengah abad lebih merdeka, kita akhirnya tumbuh menjadi orang dan bangsa yang korup, halal haram tidak peduli, contek mencontek tidak masalah, plagiat memplagiat atau bajak membajak akhir-akhir ini merajalela di semua sektor bisnis, mendapatkan ijazah dan gelar kesarjanaan pun bisa dengan membeli, berbohong adalah biasa, mark up itu boleh dan upeti atau sogok menyogok adalah wajar, siapakah yang paling punya tanggung jawab?
Di kampung-kampung, banyak orang tua rela menjual sapi dan sebidang tanah untuk “membela” anaknya yang selepas lulus STM mau jadi tentara atau karyawan daripada melakukan hal yang sama tetapi untuk berjualan krupuk atau beras. Mereka rela melepas sejumlah uang untuk “jasa terimakasih” karena anaknya menjadi pegawai negeri (PNS) daripada uang itu untuk kulakan sepatu atau berjualan roti. “Tanpa uang, mana mungkin zaman sekarang? Karena ini sudah lumrah dan wajar di zaman sekarang,” kata mereka.
Dengan demikian, akhirnya bisa disimpulkan bahwa semangat menjadi pengusaha yang tidak tumbuh subur dalam keluarga, masyarakat dan pendidikan, ternyata telah merajut masa depan negeri ini dengan rajutan yang senantiasa mbrundet dan tak bisa diurai. Makanya, ketika ada di antara kita yang mengatakan bahwa menjadi pengusaha adalah bakat, maka menurut saya, perlu dikoreksi ulang argumentasinya.
Setiap kita sudah dibekali untuk hidup mandiri dan bisa menjadi pengusaha yang ulung. Bahkan untuk menjadi seorang hero pun sesungguhnya kita secara fitri sudah dibekali dengan infrastruktur dan potensi yang luar biasa. Setiap kita pasti bisa sukses. Setiap kita berbakat menjadi pengusaha dan pemenang. Dan…. setiap kita berpotensi menjadi kaya. Hanya masalahnya, bahwa ketika kita tumbuh, membesar, dan dewasa, maka kenapa ketakutan dan keraguan yang menggelayut setiap waktu, sehingga kita sulit untuk memutuskan menjadi pengusaha? Jadi, kapan Anda siap jadi pengusaha?
Literatur : A Khoerussalim Ikhs, To Be The Moslem Entrepreneur, Pustaka Al-Kautsar, 2005(quickstart.co.id)

Mencari Keberkahan Rezeki



Setiap kita pasti berharap, agar bisa mendapatkan rezeki yang halal, dan berkah. Yaitu mendapat barakah dari Allah, sehingga bisa mencukupi kebutuhan, dan bermanfaat untuk dunia dan akhirat. Di zaman moderen ini, berbagai cara untuk mendapatkan rezeki, semakin kompleks. Dari kesemuanya itu, ada yang hukumnya halal, haram, maupun subhat.

Cara mencari rezeki yang halal, tentunya dengan jalan yang tidak melanggar syariat-syariat Allah, misalnya bertani, berdagang barang-barang yang halal dan mubah, atau bekerja halal sesuai dengan ketrampilan yang kita miliki.

Adapun rezeki yang haram, misalnya yang diperoleh dari riba, judi, penipuan, jual beli barang haram, serta dari berbagai sektor maksiat (misalnya dunia musik, keartisan, pamer aurat, hingga menjual kehormatan), tindak kriminal, juga dari jalan syirik atau perdukunan. Sedangkan rezeki yang subhat, adalah yang cara memperolehnya diragukan kehalalannya, atau masih samar-samar antara halal dan haram.

Misalnya, rezeki dari orang yang bekerja di suatu perusahaan atau media, yang visi dan missinya tidak senantiasa sejalan dengan Islam, bahkan sering berlawanan. Atau rezeki yang diperoleh dengan cara mengikuti bisnis MLM yang terkadang dianggap merugikan bagi sebagian pihak tertentu, atau yang diperoleh dari berbagai cara yang ternyata bila diteliti lebih jauh, diragukan kehalalannya. Dengan menjadi pialang saham, misalnya, yang oleh sebagian ulama dikatakan identik dengan judi.

Untuk meraih keberkahan rezeki, tentunya sebisa mungkin kita harus menghindari hal-hal yang subhat, apalagi haram. Karena itu, dalam berusaha "menjemput rezeki", kita harus memperhatikan hal-hal berikut:

PASTIKAN KEHALALANNYA

Kehalalan, harus menjadi prioritas kita dalam mencari rezeki. Jangan sampai makanan yang masuk dalam tubuh kita sekeluarga, berasal dari rezeki yang haram. Dalam sebuah hadits ditegaskan bahwa setiap daging yang diberi makan dari yang haram, tempatnya adalah di neraka. Na'udzubillah....

Jadi sebisa mungkin, berbagai sektor kerja yag berbau haram atau subhat harus kita hindari. Jangan tergiur untuk mendapatkan uang atau keuntungan dengan mudah, bila harus menggunakan cara yang haram. Insyaallah, rezeki yang sedikit tetapi diperoleh dengan cara halal, akan lebih berkah dan bermanfaat daripada hasil yang banyak, namun diperoleh dengan cara haram.

TIDAK MENZHALIMI/MERUGIKAN ORANG LAIN
Keberkahan akan sulit kita peroleh, bila cara kita dalam mencari rezeki, dengan menzhalimi atau merugikan orang lain. Berbagai praktik riba, penipuan, dan mengambil barang orang lain tanpa hak, itu adalah cara-cara yang menzhalimi oang lain. Allah melarang keras pada umat-Nya, agar tidak menempuh cara ini.

Allah berfirman, "Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil (tidak benar), kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sungguh, Allah Maha Penyayang kepadamu. Dan barangsiapa berbuat demikian dengan cara melanggar hukum dan zhalim, akan Kami masukkan dia ke dalam neraka. Yang demikian itu mudah bagi Allah." (an-Nisa': 29-30)

Selain itu kita juga harus ingat, bahwa doa orang yang terzhalimi akan dikabulkan oleh Allah. Jadi, bila orang yang kita zhalimi itu mendoakan keburukan bagi kita, maka kemungkinan besar keburukan itu akan menimpa kita.

IRINGI DENGAN TAKWA DAN TAWAKAL

Halangan dan rintangan, adakalanya akan menyertai langkah kita dalam mencari rezeki. Kita harus bisa bersabar menghadapi semua itu. Pun harus tetap menjaga ketakwaan dan ketawakkalan kita. Karena Allah berfirman,
"...Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan jalan keluar baginya; dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu." (ath-Thalaq: 2-3)

Demikian pula jika ternyata Allah memberi kita kelapangan, dan mempermudah jalan rezeki kita, maka kita tak boleh lupa untuk senantiasa mensyukurinya. Jangan sampai kemudahan itu melalaikan kita dari-Nya.

JANGAN PUTUS ASA DARI RAHMAT ALLAH


Sesungguhnya rezeki kita semua sudah ditentukan oleh Allah. Jangankan kita manusia, rezeki seluruh binatang melata di muka bumi ini pun sudah dijamin oleh Allah. Karena itu, jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah, yang Maha Luas karunia-Nya. Allah berfirman,
"Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah..." (az-Zumar: 53)

Yakinlah bahwa bersama kesulitan itu ada kemudahan, sebagaimana firman-Nya,
"Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain); dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap." (al-Insyirah 5-8)

TIPS BAGI PEKERJA DAN PEBISNIS

Berikut ini beberapa tips praktis untuk meraih keberkahan, bagi Anda yang berprofesi sebagai pekerja/karyawan, dan juga pebisnis/pedagang.

· Untuk Anda yang pekerja/ karyawan, tentu telah mendapatkan gaji sesuai ketentuan yang berlaku, di tempat Anda bekerja. Karena itu, bertakwalah kepada Allah. Jangan sampai Anda tergoda untuk berbuat tidak jujur, misalnya melakukan korupsi, suap-menyuap, manipulasi data, dan sebagainya. Berusahalah untuk bekerja sebaik-baiknya, dan sejujur-jujurnya.

· Untuk Anda yang pebisnis/pedagang, Anda harus selalu mengutamakan servis terhadap konsumen. Lakukan 5 hal berikut, yang insyaallah bisa mendatangkan berkah.

1. Berusahalah untuk selalu bersikap ramah dalam melayani konsumen, juga kepada siapa saja. Jadilah orang yang murah senyum, karena senyum adalah sedekah. Insyaallah jika hal ini Anda lakukan, banyak orang yang akan merasa senang terhadap diri dan pribadi Anda. Hal ini tentu akan berdampak positif pada kelancaran usaha Anda.

2. Permudahlah setiap transaksi atau urusan dengan orang lain, dan jangan suka mempersulit. Dengan begitu, insyaallah, Allah pun akan mempermudah urusan Anda.

3. Rajin-rajinlah bersilaturrahmi kepada sanak kerabat, atau mengunjungi teman-teman dan tetangga. Karena berdasarkan hadits Rasulullah n, silaturrahmi bisa menambah rezeki, dan memperpanjang usia....

4. Rajin-rajinlah bersedekah, karena dalam harta kita ada hak orang miskin. Sedekah kita, insyaallah akan "membersihkan" harta kita. Sedekah juga aka mendatangkan keberkahan, karena Allah l akan melipatgandakan harta yang kita sedekahkan dengan ikhlas.

5. Bersyukurlah atas apa yang telah kita peroleh. Sungguh, bila kita pandai bersyukur, maka insyaallah Allah akan menambahkan nikmat-Nya kepada kita. Sebaliknya bila kita ingkar dan lupa bersyukur, maka adzab Allah sudah menanti....
Selain melakukan 5 hal di atas, bila Anda memiliki pesaing, maka bersainglah dengan sehat, dan jangan saling menjatuhkan dengan cara-cara batil, yang membuat pihak lain merasa terzhalimi.
Semoga kita semua bisa mendapatkan rezeki yang penuh berkah, amiin.


Sumber : http://www.bimasislam.depag.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=366&catid=49:artikel&Itemid=92&Itemid=

Kamis, 08 Maret 2012

SELF CONCEPT FOR SUCCESS


3 komponen Self Concept: 
1. Self Ideal
Adalah sosok yang paling kita inginkan terwujud dalam hidup kita. Mungkin ada figur yang kita kagumi dan kita ingin menjadi seperti figur tersebut ataupun figur yang terbentuk di imajinasi kita. Dalam self ideal inilah terangkum semua impian, harapan, keinginan hati kita untuk menjadi seperti apa atau siapa. Ini akan jadi penuntun perilaku kita.
2. Self Image
Adalah bagaimana cara kita memandang diri kita sendiri dan apa yang kita rasakan mengenai diri kita. Seringkali bagian ini juga disebut "inner mirror" / cermin diri. Seluruh perilaku yang terjadi diluar diri kita selalu konsisten dengan gambaran yang terdapat didalam diri kita.
3. Self Esteem
Adalah seberapa besar kita menyukai dan menghormati diri kita sendiri serta menilai diri kita berharga atau penting. Tingkat self esteem kita akan menentukan kualitas hubungan kita dengan orang lain dan juga prestasi.
Konsep diri yang salah akan menjadi mental blok yang menghalangi kita untuk maksimal dan meraih prestasi. Karena bagaimana kita memandang diri kita dan apa yang kita rasakan mengenai diri kita akan sangat menentukan apa yang dapat kita capai dalam hidup ini. Kita akan cenderung bersikap, bertindak, berkata, bereaksi sesuai dengan gambaran diri yang terbentuk dipikiran kita. Kalau kita memandang diri kita lemah, buruk, jelek, tidak bisa apa-apa, tidak punya apa-apa, jangan heran kalau kita akan mendapatkan kehidupan seperti itu. Banyak orang sering merasa minder, tidak berharga, tidak layak, tidak berguna, tidak mampu akhirnya mereka tidak pernah mengalami kemajuan dan terus dibatasi dalam gambaran diri yang salah. Cara pandang diri yang salah akan membuat kita kehilangan kesempatan meraih hal-hal besar karena ini yang akan menjadi penghalang utama. Jangan izinkan label-label negatif yang dipasang orang lain mempengaruhi hidup kita.
Sejarah mencatat orang-orang yang terkenal dan berhasil di dunia pun adalah sebagian besar punya banyak kelemahan dan keterbatasan tapi mereka berhasil melampaui keterbatasan:
Franklin Roosevelt (polio), Bethoven (tuli, gurunya berkata komposer tidak ada harapan), Shakespeare (lumpuh), Thomas Edison (gagal disekolah, gurunya berkata tidak ada minat belajar, pemimpi, kosentrasi terpecah), Einstein (dikatakan bolot, tidak suka bergaul, tukang khayal), Charles Darwin (dianggap semua gurunya mempunyai IQ rendah), Henry Ford (gagal dalam bisnis dan bangkrut 5 kali), Walt Disney (pernah dipecat seorang redaktur surat kabar karena kekurangan ide), Akio Morita (pendiri SONY corporation adalah murid yang bodoh, ia menempati peringkat terakhir dari 180 murid dikelas ilmu pastinya).
Mereka ini menolak untuk dibatasi oleh keadaan, faktor fisik, usia, kata orang. Oleh karenanya mulailah pandang diri kita dengan benar sebagai orang yang sukses, berhasil, berguna, sukai diri kita, rasa nyamanlah dengan diri kita sendiri. Ucapkan hal-hal yang positif mengenai diri kita dan mulai pasang label yang baru secara positif.

Semboyan hidup Muslim


Allahu ghaayatunaa
Ar-Rasuulu qudwatunaa
Al-Qur'aanu dusturunaa
Al-Jihadu sabiiluna
Al-Mautu fii sabilillah
Asma amaanina

Allah adalah tujuan kami
Rasulullah teladan kami
Al Qur'an pedoman hidup kami
Jihad adalah jalan juang kami
Mati di jalan Allah adalah cita-cita kami tertinggi

Fabiayyi' ala irobbikuma tukadziban

Bagi kalangan umat muslim penggalan ayat judul diatas tadi sudah tidak asing lagi ditelinga mereka, ya ayat itu ada di surat ar-rahman ayat ke 13 dan diulang sebanyak 31 kali yang berarti "maka, nikmat rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan" gak terlalu panjang tapi dalam maknanya Ayat ini mengingatkan kita betapa besar nikmat yang telah Allah berikan kepada kita ini dan merupakan ayat favorit kita. Berawal dari bangun tidur itu sudah menjadi nikmat, karena kita terbangun dari mati sementara atau lazim biasa disebut tidur, ketika kita tidur nyawa kita ada digenggaman Allah SWT yang otomatis itu hak Allah yang pengen mengembalikan nyawa kita atau tidak. setelah bangun tidur kita bisa menghirup nafas, bisa melihat dunia yang indah ini dengan kedua mata kita yang masih utuh dan selalu tetap berada ditempatnya, kita masih bisa berjalan dengan kedua kaki yang juga masih utuh, kita juga masih bisa mengambil barang-barang dengan kedua tangan, belum ginjal, paru-paru, jantung masih berfungsi dengan baik... saya bacakan lagi "maka, nikmat rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan"

Situasi seperti sekarang pun dimana banyak terjadi bencana alam maupun kecelakaan maut bahkan pembunuhan2 yang begitu mengharukan dan membuat nurani kita sebagai manusia tercabik cabik, , kita benar-benar dibukakan mata dan hati kita betapa tidak dengan penggalan ayat tersebut. Sekalipun dimanapun kita berada, hanya Allah lah yang tahu bagaimana nasib kita selanjutnya. Akan tetapi benar-benar harus disyukuri apa yang kita rasakan saat ini. Semoga saudara kita semua dapat mengambil hikmah dari semua ini. kita sebagai seorang muslim terus merenung... apakah ini peringatan atas sikap saudara kita disana yang tanpa sadar sering menduakan Allah dengan syirik, klenik, kejawen, dan cara-cara menyekutukan Allah lainnya? Semoga kita diberi jalan yang benar sesuai syariat Islam yang sebenar-benarnya dan jauh dari kemusyrikan.

Apa kita lupa..? setiap sholat kita ucapkan Inna sholati wanusuki wamahyaya wamamati lillahi robbil ‘aalamiin" (sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya untuk ALLAH, Tuhan seluruh alam). Semoga ibadah kita bukan untuk mengagungkan raja, atasan, bos, gunung, tugu, laut, mata angin, janur, koin, dupa, dan siapapun atau benda apapun. Atau mungkin sholat kita masih sebatas ritual dan rutinitas belaka, jadi kadang kita lupa betapa nikmat ini harus kita sadari semua dari Allah semata.

Suatu ketika Rasulullah SAW keluar untuk menemui para sahabat, kemudian beliau membacakan surat ar-rahman sampai selesai, tapi tanggapan para sahabat hanya diam saja, melihat kondisi tersebut kemudian Rasulullah SAW berkata kepada para sahabat, Ketahuilah sesungguhnya saya telah membacakan surat ini kepada para jin dan tanggapan mereka lebih baik daripada kalian, saat saya bacakan ayat tersebut mereka (para jin) menjawab : "Ya Allah, sungguh tidak sedikitpun nikmat darimu yang aku dustakan, maha suci Engkau Ya Allah"

Kita bisa mendapatkan pelajaran berharga dari sepenggal kisah diatas, bahwasannya sosok jin yang kita ketahui ghaib bisa begitu takutnya dengan ayat tersebut dan lebih baik tanggapannya dari pada para sahabat Rasulullah yang sudah barang tentu keunggulan mereka jauh daripada kita. terus bagaimana dengan kita ?

Bagi kita setiap habis sholat... rasanya tidak pantas jika kita banyak meminta apalagi jika kita mengingat ayat ini. Apapun dalam hidup merupakan nikmat kita untuk menggapai akhirat. Yakinlah, mengejar akhirat pasti dapat dunia akhirat, tetapi mengejar dunia, belum tentu akhirat dapat kita capai. 

Yakinlah bahwa semua Nikmat Allah sudah lebih dari cukup. Terimakasih ya Allah... yang tak terhingga atas semua nikmat-Mu

Sabtu, 03 Maret 2012

Tips menjaga kesehatan di musim hujan




Di awal bulan tahun ini musim hujan yang akan kita sering jumpai. Dimusim hujan daya tahan tubuh akan menurun dan  gampang terkena penyakit, contohnya seperti flu, batuk, demam, diare, masuk angin dan masih banyak lagi yang lainnya. Namun kebanyakan orang tidak menghiraukan masalah itu karena berfikir tubuhnya masih merasa fit. Tetapi apabila sudah terserang penyakit baru merasa bahwa menjaga daya tahan tubuh itu sangat penting.

Bila tubuh  tidak dalam keadaan fit akan mengganggu segala aktivitas yang akan dikerjakan, itu dikarenakan daya tahan tubuh seseorang yang sedang terserang penyakit. Bila tubuh merasa tidak fit akan berpengaruh pada kinerja otak. Kerja otak akan terganggu membuat kita sulit untuk berkonsentrasi. Oleh karena itu kita harus lebih memperhatikan kondisi tubuh  dan lingkungan. Karena lingkungan sekitar  juga berperan penting untuk menjada kesehatan kita.
Ini adalah beberapa tips untuk menjaga tubuh di saat musim hujan :
1. Mencuci tangan sesudah beraktivitas
Tanpa  disadari, virus penyakit  dapat menular dengan mudah dengan kontak tangan saat musim hujan. Jadi biasakanlah untuk mencuci tangan setelah beraktivitas.
2. Jangan terlalu sering menyentuh wajah
Virus dapat dengan mudah masuk lewat hidung, mulut, bahkan mata. Jadi jangan terlalu sering mengusap-usap muka kecuali tangan benar-benar bersih.
3. Usahakan tidak terkena air hujan
Daya tahan tubuh akan turun drastis saat tubuh terkena air hujan dan menyebabkan mudah terserang penyakit. Jadi diusahakan jangan sampai kehujanan.
4. Banyak Minum Air Mineral
Biasakan minum minimal delapan gelas air mineral dalam sehari. Minum air mineral yang cukup mampu berfungsi untuk meningkatkan daya tahan tubuh dan menangkal atau membuang racun-racun yang masuk ke tubuh.
5. Konsumsi banyak buah bervitamin C tinggi dan Multivitamin
Vitamin C yang cukup sudah dikenal mampu menangkal penyakit karena meningkatkan kekebalan tubuh, komsumsi multivitamin sebagai tambahan untuk membantu kekebalan tubuh. Buah-buahan kaya Vitamin C seperti jeruk, apel, lemon, tomat, dan buah-buahan berwarna kuning atau oranye lainnya.
6. Konsumsi makanan mengandung Phytochemical
Phytochemical adalah sejenis bahan kimia alami yang ada pada tumbuhan yang memberi vitamin pada makanan. Zat jenis ini terdapat pada buah dan sayur segar berwarna hijau, merah dan kuning gelap, jadi usahakan memperbanyak konsumsi makanan jenis ini.

Jumat, 24 Februari 2012

musa udah 4 bulan








Tak terasa waktu berjalan begitu cepat...begitu juga bagi si kecil Musa..kini ia sudah pandai membalikkan badan mungilnya....mulai berlatih merangkak..!!!...ah senangnya hati ini bercanda bersama musa kecil...Begitu juga dengan sang kakak: Adil...ia juga terlihat dah enjoy dengan adiknya....makasih ya dik ruroh,istriku nan sholihah yg tlah memberikan "generasi emas" bagi keluarga kita....