Senin, 12 Maret 2012

Setiap kita berbakat jadi Pengusaha...



Setiap orang berbakat jadi pengusaha.
Menjadi pengusaha adalah bakat. Begitu aksioma sebagian orang rentang profesi yang sangat menantang ini. Menjual adalah bakat, katanya. Benarkah demikian? Saya termasuk orang yang tidak terlalu mempercayai aksioma tersebut. Landasan berpikir saya adalah, coba kita renungkan bersama hal-hal sebagai berikut:
Pertama: Kita adalah pemenang dari 150 juta sperma.
Sperma sebanyak itu mati dan tak bisa memenangkan kompetisi mererebut ovum (sel pembuahan reproduksi wanita) kecuali satu sperma, yakni sperma yang kemudian menjadi kita seperti saat ini. Perjuangan sperma yang melelahkan, memakan waktu yang panjang, penuh halang rintang dengan proses yang berkelok dan berliku-liku.
Akhirnya perjuangan itu pemenangnya adalah kita yang sampai hari ini masih bisa menghirup udara yang gratis diberikan Allah untuk bekal hidup kita. Sebagai pemenang kompetisi melawan jutaan sperma, mestinya kita bangga dan memiliki rasa percaya diri yang tinggi dalam menatap kehidupan ini.
Kita oleh Tuhan dibekali self confidence yang luar biasa hebatnya, terbukti mampu mengalahkan pesaing yang sangat luar biasa banyaknya. Namun kenapa semua itu tidak tumbuh subur dalam pribadi kita begitu kita menapaki kehidupan di dunia ini? Adakah kita telah lupa dengan sejarah fitrah penciptaan kita? Apakah kita tidak mengambil hikmah atas sepenggal awal kejadian dalam kehidupan seorang manusia, termasuk kita, sehingga kita akhirnya menjadi manusia yang lupa atas fitrah kita, yang sesungguhnya semua itu merupakan modal kemandirian kita?
Jiwa pengusaha yang optimistik, penuh rasa percaya diri, kemampuan untuk mandiri, daya kreasi yang bebas dan kreatif, selalu ingin jadi juara, kemampuan berkompetisi, dll, semuanya adalah faktor dasar yang secara fitri sudah diberikan Allah kepada kita sejak masih berbentuk sperma, yaitu air yang hina, air yang disia-siakan dan air yang ‘tak berarti’.
Faktor-faktor fitrah manusia seperti itu sesungguhnya merupakan modal dasar setiap manusia untuk menjadi pengusaha. Sebab pengusaha memang haruslah memiliki kemampuan dasar seperti itu. Jadi secara fitrah manusia sesungguhnya diberikan Allah satu kemampuan untuk menjadi pengusaha yang sangat luar biasa.
Hanya masalahnya, kenapa kemudian setelah kita dewasa kita merasa tidak percaya diri untuk menjadi pengusaha? Coba kita renungkan kembali kenapa potensi dasar yang sangat luar biasa diberikan Allah untuk jadi pengusaha itu kok tidak berkembang, bahkan yang muncul dan berkembang dalam kepribadian kita adalah kepribadian yang inverior, rasa rendah diri, merasa tak mampu dan takut gagal jadi pengusaha? Bukankah kita sudah pernah menjadi pemenang dengan kompetisi jutaan kompetitor? Kenapa kita lupa kalau kita sesungguhnya diciptakan untuk menjadi pemenang? Kenapa kita tak punya percaya diri untuk menjadi pengusaha dan menang dalam setiap kompetisi? Kenapa daya juang kita melemah padahal sesungguhnya kita dilahirkan sebagai seorang hero (pahlawan)? Saatnya kita mengintrospeksi diri, siapa sesungguhnya diri kita ini?
Kedua: setelah kita lahir yang pertama kita lakukan adalah menangis.
Orangtua kita akan sedih dan menangis, kalau kita semua lahir tidak menangis. Tapi karena kita lahir menangis maka orangtua kita jadi senang.
Apa sesungguhnya makna ‘menangis’ ini dari kacamata pengusaha? Menangis sesungguhnya adalah merupakan aktivitas promosi. Ya, promosi! Kenapa begitu? Karena menangisnya anak kecil itu sesungguhnya upaya anak untuk mencari perhatian dari orangtuanya dan orang-orang lain di sekitar kehidupannya yang baru.
Artinya: Tangisan bayi telah berhasil menjadi aktivitas promosi yang sangat luar biasa efektif untuk memperkenalkan jati diri si bayi pada kurun selanjutnya dari kehidupannya. Dengan demikian, sejatinya sejak lahir kita sudah diberi kemampuan selling yang sangat luar biasa. Karena dengan tangisan sang bayi, akhirnya dia bisa menjual dirinya untuk dibeli dengan perhatian banyak orang di sekitar kehidupannya.
Ketiga: Lingkungan keluarga tidak mendukung tumbuh kembangnya jiwa pengusaha.
Ketika kita kecil orangtua kita menanamkan pendidikan kepada kita dengan pendidikan bukan sebagai calon pengusaha. Coba kita amati para orangtua mendidik anaknya bila si anak main pisau, main api, main martil, panjat pagar, naik pohon, naik genteng, mainan air, dan sebagainya. Apa yang dilakukan orangtua terhadap anaknya yang masih di bawah lima tahun usianya dan anak itu bermain api, air, pisau dsb itu?
Sebagai orang tua apabila kita melihat anak bermain seperti itu, hampir semua kita akan mengatakan, “Jangan! Jangan! Dan jangan!” Apa sesungguhnya yang terjadi dengan pendidikan, Jangan! Jangan! Dan jangan,” itu? Kita sedang berupaya mengecilkan upaya pertumbuhan otak kanan si anak. Peran otak kanan si anak sedang disusutkan lewat pendidikan, “Jangan! Jangan! Dan jangan,” itu. Otak kanan anak akhirnya menjadi mengecil dan jiwa pengusaha tak berkembang semestinya. Hasil dari proses pendidikan, “Jangan! Jangan! Dan jangan,” itu adalah kita menjadi penakut. Kita menjadi orang yang tidak memiliki rasa percaya diri yang cukup. Karena kita tidak memberikan ruang berkembang yang cukup ideal bagi otak kanan, maka akhirnya kini kita menjadi manusia dan bangsa inverior, kurang percaya diri dan tidak berani bersaing secara sehat.
Padahal sesungguhnya pada otak kananlah emotional quation dan spiritual quotion tempatnya berada. Pada pendidikan berbasis otak kananlah sesungguhnya tumbuhnya kreatifitas dan inovasi seorang pengusaha. Imajinasi dan cita-cita calon pengusaha dibangun lewat otak kanan, yang kelak akan sangat berarti bagi kehidupannya membangun “hidup ini menjadi lebih hidup.” Pada otak kananlah perasaan kemanusiaan dibangunsuburkan.
Keempat: kita mengukur kesuksesan hidup secara linier.
Apa yang kita lakukan dengan pendidikan anak berbasis otak kanan? Kita hampir tidak memberikan ruang berkembang yang cukup ideal. Sebab pada kenyataannya banyak orang yang akhirnya mengukur kesuksesan anak bila di kelasnya rangking satu. Anak dinilai hebat, kalau nilai raportnya 9 atau 10, juara satu di kelas atau sekolahnya, dan lulus dengan cumlaude. Orang disebut hebat kalau dia pintar, bergelar sarjana, doktor atau professor. Kita menilai orang dari sisi nilai ijazah dan raport setiap semesternya. Benarkah demikian sesungguhnya dalam hidup ini?
Kelima: semasa masih kecil, orangtua dan keluarga juga menanamkan pendidikan tentang cita-cita anak bukan sebagai calon pengusaha.
Coba Anda amati orang-orang di sekitar kita ketika menanamkan apa cita-cita anak kalau besar nanti. “Apa cita-citamu kalau besar nanti?” Demikian kata mama suatu saat pada anaknya. Papanya juga menambahkan, “Mau jadi apa kalau besar nanti kamu nak?”
Apa yang diajarkan orangtua pada anaknya tentang cita-cita dan hidup masa depan anaknya? Hampir sebagian besar kita akan menggiring anak agar kalau besar nanti jadi pilot, jadi dokter, jadi insinyur, jadi presiden, jadi perawat, jadi guru, jadi polisi dan jadi tentara. Masih dalam kerangka pendidikan yang belum mengeluarkan biaya besar, kenapa kita tidak menanamkan jiwa dan semangat anak dengan memotivasi cita-citanya kelak menjadi pemilik pesawat? Kenapa kita tidak mengajarkan anak agar kelak besar menjadi pemilik rumah sakit? Kenapa kita hanya menempatkan anak dengan cita-cita “cukup sebagai pilot” cukup sebagai perawat dan dokter” dan tidak menjadi pemilik pesawatnya atau rumah sakitnya? Orangtuanya sendiri yang tidak memiliki kemampuan berpikir sebagai pengusaha.
Keenam: Ketika masih di bangku sekolah dasar, kita baru belajar menulis dan membaca, oleh guru diajari dengan pelajaran bukan sebagai pengusaha.
Kita di kelas diajarkan cara menulis dan membaca seperti ini, “Ini ibu Budi.” “Ibu Budi pergi ke pasar membeli roti.” Begitu seterusnya. Guru mengajari kita dengan pengetahuan dasar sebagai “pembeli”. Kenapa guru tidak mengajarkan kita dengan pelajaran menjadi pengusaha, “Ini ibu Budi.” “Ibu Budi pergi ke pasar berjualan roti.” Pelajaran “berjualan” tidak diajarkan dan tidak ditanamkan kepada murid sedini mungkin. Sejak kecil kita diajari untuk menjadi orang yang konsumtif. Kita tidak diajarkan bekerja keras untuk meraih sesuatu. Dari sekolah dasar kita tidak diajari bagaimana bekerja dengan baik dan benar, namun selalu kita diajari untuk menjadi orang yang konsumtif, hedonism dan pragmatis.
Ketujuh: Sejak kelas 1 Sekolah Dasar (SD) hingga perguruan tinggi usai, kita diajarkan menyelesaikan soal-soal setiap kita mau test dan ujian kenaikan kelas atau kelulusan dengan soal-soal yang oleh guru disuguhkan dalam format multiple choice.
Apa sesungguhnya yang sedang diajarkan oleh guru, dosen dan para ahli pendidikan kita itu dengan soal-soal yang multiple choice itu? Kita selalu setiap saat disuguhkan soal-soal seperti itu sesungguhnya kita sedang diproses dan dijadikan oleh guru-guru kita itu menjadi orang yang harus menyelesaikan setiap masalah itu dengan cara instan.
Soal-soal seperti itu dibuat oleh guru dengan alasan yang praktis dan pragmatis, yakni: agar dalam proses mengoreksinya lebih mudah. Apalagi dengan jumlah siswa yang banyak, mata pelajaran yang juga tidak sedikit, maka satu-satunya cara menyelesaikan kurikulum dengan cepat adalah dengan soal-soal multiple choice itu. Apa yang dihasilkan dari keinginan guru yang sekedar ingin praktis dan pragmatis?
Ternyata hasilnya adalah kehidupan yang praktis, pragmatis, instan dan tidak mau bersusah payah untuk meraih tujuan sesuatu yang diinginkan. Guru, dosen dan para ahli pendidikan negeri ini mengajarkan kehidupan yang pragmatis dan konsumtif, maka hasilnya kita menjadi orang yang sangat mengagungkan semua penyelesaian semua masalah ini dengan cara-cara yang pragmatis, instan dan tak mau bersusah payah, tidak mau antri, tidak mau sesuai dengan prosedur, bahkan beberapa hal kita sudah tidak peduli lagi dengan proses.
Kalaulah kemudian setelah dewasa, bangsa ini sudah setengah abad lebih merdeka, kita akhirnya tumbuh menjadi orang dan bangsa yang korup, halal haram tidak peduli, contek mencontek tidak masalah, plagiat memplagiat atau bajak membajak akhir-akhir ini merajalela di semua sektor bisnis, mendapatkan ijazah dan gelar kesarjanaan pun bisa dengan membeli, berbohong adalah biasa, mark up itu boleh dan upeti atau sogok menyogok adalah wajar, siapakah yang paling punya tanggung jawab?
Di kampung-kampung, banyak orang tua rela menjual sapi dan sebidang tanah untuk “membela” anaknya yang selepas lulus STM mau jadi tentara atau karyawan daripada melakukan hal yang sama tetapi untuk berjualan krupuk atau beras. Mereka rela melepas sejumlah uang untuk “jasa terimakasih” karena anaknya menjadi pegawai negeri (PNS) daripada uang itu untuk kulakan sepatu atau berjualan roti. “Tanpa uang, mana mungkin zaman sekarang? Karena ini sudah lumrah dan wajar di zaman sekarang,” kata mereka.
Dengan demikian, akhirnya bisa disimpulkan bahwa semangat menjadi pengusaha yang tidak tumbuh subur dalam keluarga, masyarakat dan pendidikan, ternyata telah merajut masa depan negeri ini dengan rajutan yang senantiasa mbrundet dan tak bisa diurai. Makanya, ketika ada di antara kita yang mengatakan bahwa menjadi pengusaha adalah bakat, maka menurut saya, perlu dikoreksi ulang argumentasinya.
Setiap kita sudah dibekali untuk hidup mandiri dan bisa menjadi pengusaha yang ulung. Bahkan untuk menjadi seorang hero pun sesungguhnya kita secara fitri sudah dibekali dengan infrastruktur dan potensi yang luar biasa. Setiap kita pasti bisa sukses. Setiap kita berbakat menjadi pengusaha dan pemenang. Dan…. setiap kita berpotensi menjadi kaya. Hanya masalahnya, bahwa ketika kita tumbuh, membesar, dan dewasa, maka kenapa ketakutan dan keraguan yang menggelayut setiap waktu, sehingga kita sulit untuk memutuskan menjadi pengusaha? Jadi, kapan Anda siap jadi pengusaha?
Literatur : A Khoerussalim Ikhs, To Be The Moslem Entrepreneur, Pustaka Al-Kautsar, 2005(quickstart.co.id)

Mencari Keberkahan Rezeki



Setiap kita pasti berharap, agar bisa mendapatkan rezeki yang halal, dan berkah. Yaitu mendapat barakah dari Allah, sehingga bisa mencukupi kebutuhan, dan bermanfaat untuk dunia dan akhirat. Di zaman moderen ini, berbagai cara untuk mendapatkan rezeki, semakin kompleks. Dari kesemuanya itu, ada yang hukumnya halal, haram, maupun subhat.

Cara mencari rezeki yang halal, tentunya dengan jalan yang tidak melanggar syariat-syariat Allah, misalnya bertani, berdagang barang-barang yang halal dan mubah, atau bekerja halal sesuai dengan ketrampilan yang kita miliki.

Adapun rezeki yang haram, misalnya yang diperoleh dari riba, judi, penipuan, jual beli barang haram, serta dari berbagai sektor maksiat (misalnya dunia musik, keartisan, pamer aurat, hingga menjual kehormatan), tindak kriminal, juga dari jalan syirik atau perdukunan. Sedangkan rezeki yang subhat, adalah yang cara memperolehnya diragukan kehalalannya, atau masih samar-samar antara halal dan haram.

Misalnya, rezeki dari orang yang bekerja di suatu perusahaan atau media, yang visi dan missinya tidak senantiasa sejalan dengan Islam, bahkan sering berlawanan. Atau rezeki yang diperoleh dengan cara mengikuti bisnis MLM yang terkadang dianggap merugikan bagi sebagian pihak tertentu, atau yang diperoleh dari berbagai cara yang ternyata bila diteliti lebih jauh, diragukan kehalalannya. Dengan menjadi pialang saham, misalnya, yang oleh sebagian ulama dikatakan identik dengan judi.

Untuk meraih keberkahan rezeki, tentunya sebisa mungkin kita harus menghindari hal-hal yang subhat, apalagi haram. Karena itu, dalam berusaha "menjemput rezeki", kita harus memperhatikan hal-hal berikut:

PASTIKAN KEHALALANNYA

Kehalalan, harus menjadi prioritas kita dalam mencari rezeki. Jangan sampai makanan yang masuk dalam tubuh kita sekeluarga, berasal dari rezeki yang haram. Dalam sebuah hadits ditegaskan bahwa setiap daging yang diberi makan dari yang haram, tempatnya adalah di neraka. Na'udzubillah....

Jadi sebisa mungkin, berbagai sektor kerja yag berbau haram atau subhat harus kita hindari. Jangan tergiur untuk mendapatkan uang atau keuntungan dengan mudah, bila harus menggunakan cara yang haram. Insyaallah, rezeki yang sedikit tetapi diperoleh dengan cara halal, akan lebih berkah dan bermanfaat daripada hasil yang banyak, namun diperoleh dengan cara haram.

TIDAK MENZHALIMI/MERUGIKAN ORANG LAIN
Keberkahan akan sulit kita peroleh, bila cara kita dalam mencari rezeki, dengan menzhalimi atau merugikan orang lain. Berbagai praktik riba, penipuan, dan mengambil barang orang lain tanpa hak, itu adalah cara-cara yang menzhalimi oang lain. Allah melarang keras pada umat-Nya, agar tidak menempuh cara ini.

Allah berfirman, "Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil (tidak benar), kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sungguh, Allah Maha Penyayang kepadamu. Dan barangsiapa berbuat demikian dengan cara melanggar hukum dan zhalim, akan Kami masukkan dia ke dalam neraka. Yang demikian itu mudah bagi Allah." (an-Nisa': 29-30)

Selain itu kita juga harus ingat, bahwa doa orang yang terzhalimi akan dikabulkan oleh Allah. Jadi, bila orang yang kita zhalimi itu mendoakan keburukan bagi kita, maka kemungkinan besar keburukan itu akan menimpa kita.

IRINGI DENGAN TAKWA DAN TAWAKAL

Halangan dan rintangan, adakalanya akan menyertai langkah kita dalam mencari rezeki. Kita harus bisa bersabar menghadapi semua itu. Pun harus tetap menjaga ketakwaan dan ketawakkalan kita. Karena Allah berfirman,
"...Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan jalan keluar baginya; dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu." (ath-Thalaq: 2-3)

Demikian pula jika ternyata Allah memberi kita kelapangan, dan mempermudah jalan rezeki kita, maka kita tak boleh lupa untuk senantiasa mensyukurinya. Jangan sampai kemudahan itu melalaikan kita dari-Nya.

JANGAN PUTUS ASA DARI RAHMAT ALLAH


Sesungguhnya rezeki kita semua sudah ditentukan oleh Allah. Jangankan kita manusia, rezeki seluruh binatang melata di muka bumi ini pun sudah dijamin oleh Allah. Karena itu, jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah, yang Maha Luas karunia-Nya. Allah berfirman,
"Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah..." (az-Zumar: 53)

Yakinlah bahwa bersama kesulitan itu ada kemudahan, sebagaimana firman-Nya,
"Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain); dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap." (al-Insyirah 5-8)

TIPS BAGI PEKERJA DAN PEBISNIS

Berikut ini beberapa tips praktis untuk meraih keberkahan, bagi Anda yang berprofesi sebagai pekerja/karyawan, dan juga pebisnis/pedagang.

· Untuk Anda yang pekerja/ karyawan, tentu telah mendapatkan gaji sesuai ketentuan yang berlaku, di tempat Anda bekerja. Karena itu, bertakwalah kepada Allah. Jangan sampai Anda tergoda untuk berbuat tidak jujur, misalnya melakukan korupsi, suap-menyuap, manipulasi data, dan sebagainya. Berusahalah untuk bekerja sebaik-baiknya, dan sejujur-jujurnya.

· Untuk Anda yang pebisnis/pedagang, Anda harus selalu mengutamakan servis terhadap konsumen. Lakukan 5 hal berikut, yang insyaallah bisa mendatangkan berkah.

1. Berusahalah untuk selalu bersikap ramah dalam melayani konsumen, juga kepada siapa saja. Jadilah orang yang murah senyum, karena senyum adalah sedekah. Insyaallah jika hal ini Anda lakukan, banyak orang yang akan merasa senang terhadap diri dan pribadi Anda. Hal ini tentu akan berdampak positif pada kelancaran usaha Anda.

2. Permudahlah setiap transaksi atau urusan dengan orang lain, dan jangan suka mempersulit. Dengan begitu, insyaallah, Allah pun akan mempermudah urusan Anda.

3. Rajin-rajinlah bersilaturrahmi kepada sanak kerabat, atau mengunjungi teman-teman dan tetangga. Karena berdasarkan hadits Rasulullah n, silaturrahmi bisa menambah rezeki, dan memperpanjang usia....

4. Rajin-rajinlah bersedekah, karena dalam harta kita ada hak orang miskin. Sedekah kita, insyaallah akan "membersihkan" harta kita. Sedekah juga aka mendatangkan keberkahan, karena Allah l akan melipatgandakan harta yang kita sedekahkan dengan ikhlas.

5. Bersyukurlah atas apa yang telah kita peroleh. Sungguh, bila kita pandai bersyukur, maka insyaallah Allah akan menambahkan nikmat-Nya kepada kita. Sebaliknya bila kita ingkar dan lupa bersyukur, maka adzab Allah sudah menanti....
Selain melakukan 5 hal di atas, bila Anda memiliki pesaing, maka bersainglah dengan sehat, dan jangan saling menjatuhkan dengan cara-cara batil, yang membuat pihak lain merasa terzhalimi.
Semoga kita semua bisa mendapatkan rezeki yang penuh berkah, amiin.


Sumber : http://www.bimasislam.depag.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=366&catid=49:artikel&Itemid=92&Itemid=

Kamis, 08 Maret 2012

SELF CONCEPT FOR SUCCESS


3 komponen Self Concept: 
1. Self Ideal
Adalah sosok yang paling kita inginkan terwujud dalam hidup kita. Mungkin ada figur yang kita kagumi dan kita ingin menjadi seperti figur tersebut ataupun figur yang terbentuk di imajinasi kita. Dalam self ideal inilah terangkum semua impian, harapan, keinginan hati kita untuk menjadi seperti apa atau siapa. Ini akan jadi penuntun perilaku kita.
2. Self Image
Adalah bagaimana cara kita memandang diri kita sendiri dan apa yang kita rasakan mengenai diri kita. Seringkali bagian ini juga disebut "inner mirror" / cermin diri. Seluruh perilaku yang terjadi diluar diri kita selalu konsisten dengan gambaran yang terdapat didalam diri kita.
3. Self Esteem
Adalah seberapa besar kita menyukai dan menghormati diri kita sendiri serta menilai diri kita berharga atau penting. Tingkat self esteem kita akan menentukan kualitas hubungan kita dengan orang lain dan juga prestasi.
Konsep diri yang salah akan menjadi mental blok yang menghalangi kita untuk maksimal dan meraih prestasi. Karena bagaimana kita memandang diri kita dan apa yang kita rasakan mengenai diri kita akan sangat menentukan apa yang dapat kita capai dalam hidup ini. Kita akan cenderung bersikap, bertindak, berkata, bereaksi sesuai dengan gambaran diri yang terbentuk dipikiran kita. Kalau kita memandang diri kita lemah, buruk, jelek, tidak bisa apa-apa, tidak punya apa-apa, jangan heran kalau kita akan mendapatkan kehidupan seperti itu. Banyak orang sering merasa minder, tidak berharga, tidak layak, tidak berguna, tidak mampu akhirnya mereka tidak pernah mengalami kemajuan dan terus dibatasi dalam gambaran diri yang salah. Cara pandang diri yang salah akan membuat kita kehilangan kesempatan meraih hal-hal besar karena ini yang akan menjadi penghalang utama. Jangan izinkan label-label negatif yang dipasang orang lain mempengaruhi hidup kita.
Sejarah mencatat orang-orang yang terkenal dan berhasil di dunia pun adalah sebagian besar punya banyak kelemahan dan keterbatasan tapi mereka berhasil melampaui keterbatasan:
Franklin Roosevelt (polio), Bethoven (tuli, gurunya berkata komposer tidak ada harapan), Shakespeare (lumpuh), Thomas Edison (gagal disekolah, gurunya berkata tidak ada minat belajar, pemimpi, kosentrasi terpecah), Einstein (dikatakan bolot, tidak suka bergaul, tukang khayal), Charles Darwin (dianggap semua gurunya mempunyai IQ rendah), Henry Ford (gagal dalam bisnis dan bangkrut 5 kali), Walt Disney (pernah dipecat seorang redaktur surat kabar karena kekurangan ide), Akio Morita (pendiri SONY corporation adalah murid yang bodoh, ia menempati peringkat terakhir dari 180 murid dikelas ilmu pastinya).
Mereka ini menolak untuk dibatasi oleh keadaan, faktor fisik, usia, kata orang. Oleh karenanya mulailah pandang diri kita dengan benar sebagai orang yang sukses, berhasil, berguna, sukai diri kita, rasa nyamanlah dengan diri kita sendiri. Ucapkan hal-hal yang positif mengenai diri kita dan mulai pasang label yang baru secara positif.

Semboyan hidup Muslim


Allahu ghaayatunaa
Ar-Rasuulu qudwatunaa
Al-Qur'aanu dusturunaa
Al-Jihadu sabiiluna
Al-Mautu fii sabilillah
Asma amaanina

Allah adalah tujuan kami
Rasulullah teladan kami
Al Qur'an pedoman hidup kami
Jihad adalah jalan juang kami
Mati di jalan Allah adalah cita-cita kami tertinggi

Fabiayyi' ala irobbikuma tukadziban

Bagi kalangan umat muslim penggalan ayat judul diatas tadi sudah tidak asing lagi ditelinga mereka, ya ayat itu ada di surat ar-rahman ayat ke 13 dan diulang sebanyak 31 kali yang berarti "maka, nikmat rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan" gak terlalu panjang tapi dalam maknanya Ayat ini mengingatkan kita betapa besar nikmat yang telah Allah berikan kepada kita ini dan merupakan ayat favorit kita. Berawal dari bangun tidur itu sudah menjadi nikmat, karena kita terbangun dari mati sementara atau lazim biasa disebut tidur, ketika kita tidur nyawa kita ada digenggaman Allah SWT yang otomatis itu hak Allah yang pengen mengembalikan nyawa kita atau tidak. setelah bangun tidur kita bisa menghirup nafas, bisa melihat dunia yang indah ini dengan kedua mata kita yang masih utuh dan selalu tetap berada ditempatnya, kita masih bisa berjalan dengan kedua kaki yang juga masih utuh, kita juga masih bisa mengambil barang-barang dengan kedua tangan, belum ginjal, paru-paru, jantung masih berfungsi dengan baik... saya bacakan lagi "maka, nikmat rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan"

Situasi seperti sekarang pun dimana banyak terjadi bencana alam maupun kecelakaan maut bahkan pembunuhan2 yang begitu mengharukan dan membuat nurani kita sebagai manusia tercabik cabik, , kita benar-benar dibukakan mata dan hati kita betapa tidak dengan penggalan ayat tersebut. Sekalipun dimanapun kita berada, hanya Allah lah yang tahu bagaimana nasib kita selanjutnya. Akan tetapi benar-benar harus disyukuri apa yang kita rasakan saat ini. Semoga saudara kita semua dapat mengambil hikmah dari semua ini. kita sebagai seorang muslim terus merenung... apakah ini peringatan atas sikap saudara kita disana yang tanpa sadar sering menduakan Allah dengan syirik, klenik, kejawen, dan cara-cara menyekutukan Allah lainnya? Semoga kita diberi jalan yang benar sesuai syariat Islam yang sebenar-benarnya dan jauh dari kemusyrikan.

Apa kita lupa..? setiap sholat kita ucapkan Inna sholati wanusuki wamahyaya wamamati lillahi robbil ‘aalamiin" (sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya untuk ALLAH, Tuhan seluruh alam). Semoga ibadah kita bukan untuk mengagungkan raja, atasan, bos, gunung, tugu, laut, mata angin, janur, koin, dupa, dan siapapun atau benda apapun. Atau mungkin sholat kita masih sebatas ritual dan rutinitas belaka, jadi kadang kita lupa betapa nikmat ini harus kita sadari semua dari Allah semata.

Suatu ketika Rasulullah SAW keluar untuk menemui para sahabat, kemudian beliau membacakan surat ar-rahman sampai selesai, tapi tanggapan para sahabat hanya diam saja, melihat kondisi tersebut kemudian Rasulullah SAW berkata kepada para sahabat, Ketahuilah sesungguhnya saya telah membacakan surat ini kepada para jin dan tanggapan mereka lebih baik daripada kalian, saat saya bacakan ayat tersebut mereka (para jin) menjawab : "Ya Allah, sungguh tidak sedikitpun nikmat darimu yang aku dustakan, maha suci Engkau Ya Allah"

Kita bisa mendapatkan pelajaran berharga dari sepenggal kisah diatas, bahwasannya sosok jin yang kita ketahui ghaib bisa begitu takutnya dengan ayat tersebut dan lebih baik tanggapannya dari pada para sahabat Rasulullah yang sudah barang tentu keunggulan mereka jauh daripada kita. terus bagaimana dengan kita ?

Bagi kita setiap habis sholat... rasanya tidak pantas jika kita banyak meminta apalagi jika kita mengingat ayat ini. Apapun dalam hidup merupakan nikmat kita untuk menggapai akhirat. Yakinlah, mengejar akhirat pasti dapat dunia akhirat, tetapi mengejar dunia, belum tentu akhirat dapat kita capai. 

Yakinlah bahwa semua Nikmat Allah sudah lebih dari cukup. Terimakasih ya Allah... yang tak terhingga atas semua nikmat-Mu

Sabtu, 03 Maret 2012

Tips menjaga kesehatan di musim hujan




Di awal bulan tahun ini musim hujan yang akan kita sering jumpai. Dimusim hujan daya tahan tubuh akan menurun dan  gampang terkena penyakit, contohnya seperti flu, batuk, demam, diare, masuk angin dan masih banyak lagi yang lainnya. Namun kebanyakan orang tidak menghiraukan masalah itu karena berfikir tubuhnya masih merasa fit. Tetapi apabila sudah terserang penyakit baru merasa bahwa menjaga daya tahan tubuh itu sangat penting.

Bila tubuh  tidak dalam keadaan fit akan mengganggu segala aktivitas yang akan dikerjakan, itu dikarenakan daya tahan tubuh seseorang yang sedang terserang penyakit. Bila tubuh merasa tidak fit akan berpengaruh pada kinerja otak. Kerja otak akan terganggu membuat kita sulit untuk berkonsentrasi. Oleh karena itu kita harus lebih memperhatikan kondisi tubuh  dan lingkungan. Karena lingkungan sekitar  juga berperan penting untuk menjada kesehatan kita.
Ini adalah beberapa tips untuk menjaga tubuh di saat musim hujan :
1. Mencuci tangan sesudah beraktivitas
Tanpa  disadari, virus penyakit  dapat menular dengan mudah dengan kontak tangan saat musim hujan. Jadi biasakanlah untuk mencuci tangan setelah beraktivitas.
2. Jangan terlalu sering menyentuh wajah
Virus dapat dengan mudah masuk lewat hidung, mulut, bahkan mata. Jadi jangan terlalu sering mengusap-usap muka kecuali tangan benar-benar bersih.
3. Usahakan tidak terkena air hujan
Daya tahan tubuh akan turun drastis saat tubuh terkena air hujan dan menyebabkan mudah terserang penyakit. Jadi diusahakan jangan sampai kehujanan.
4. Banyak Minum Air Mineral
Biasakan minum minimal delapan gelas air mineral dalam sehari. Minum air mineral yang cukup mampu berfungsi untuk meningkatkan daya tahan tubuh dan menangkal atau membuang racun-racun yang masuk ke tubuh.
5. Konsumsi banyak buah bervitamin C tinggi dan Multivitamin
Vitamin C yang cukup sudah dikenal mampu menangkal penyakit karena meningkatkan kekebalan tubuh, komsumsi multivitamin sebagai tambahan untuk membantu kekebalan tubuh. Buah-buahan kaya Vitamin C seperti jeruk, apel, lemon, tomat, dan buah-buahan berwarna kuning atau oranye lainnya.
6. Konsumsi makanan mengandung Phytochemical
Phytochemical adalah sejenis bahan kimia alami yang ada pada tumbuhan yang memberi vitamin pada makanan. Zat jenis ini terdapat pada buah dan sayur segar berwarna hijau, merah dan kuning gelap, jadi usahakan memperbanyak konsumsi makanan jenis ini.

Jumat, 24 Februari 2012

musa udah 4 bulan








Tak terasa waktu berjalan begitu cepat...begitu juga bagi si kecil Musa..kini ia sudah pandai membalikkan badan mungilnya....mulai berlatih merangkak..!!!...ah senangnya hati ini bercanda bersama musa kecil...Begitu juga dengan sang kakak: Adil...ia juga terlihat dah enjoy dengan adiknya....makasih ya dik ruroh,istriku nan sholihah yg tlah memberikan "generasi emas" bagi keluarga kita....

Rabu, 08 Februari 2012

Valentine Day..??? NO WAY...lah yaw..




Dan tentang "kasih sayang"-pun ISLAM sudah sempurna mengaturnya....*tidak perlu bersusah payah mengadopsi & mengekor budaya baru yang jelas-jelas bukan bagian dari ISLAM*^__^
------------------------------------------------------

1."Saling memberi hadiahlah kalian, niscaya kalian akan saling mencintai."

(HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad no. 594, dihasankan Al-Imam Al-Albani rahimahullahu dalam Irwa`ul Ghalil no. 1601)

2."Saling berjabat tanganlah kalian, niscaya akan hilang kedengkian. Saling memberi hadiah lah kalian, niscaya kalian saling mencintai dan hilang (dari kalian) kebencian." (HR. Imam Malik).

3. “Barangsiapa yang tidak menyayangi manusia maka Allah tidak akan menyayanginya.” (Shahih, HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Jarir bin Abdullah )

4.“Hak orang muslim terhadap muslim lainya ada lima; menjawab salam, menjenguk orang yang sakit, mengantar jenazah, menjawab undangan dan menjawab orang yang bersin.” (Shahih, HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah )

5.“Barangsiapa yang memberikan kemudahan terhadap kesulitan saudaranya, niscaya Allah akan memberikan kemudahan baginya di dunia dan di akhirat.” (Shahih, HR. Muslim dari Abu Hurairah)

6.“Ada tujuh golongan yang Allah akan naungi pada hari dimana tidak ada naungan selain naungan-Nya: (1)Imam yang adil, (2)pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah, (3)seorang laki-laki yang hatinya selalu terpaut dengan masjid, (4)dua orang yang saling MENCINTAI karena Allah yang mereka berkumpul karena-Nya dan juga berpisah karena-Nya, (5)seorang laki-laki yang dirayu oleh wanita bangsawan lagi cantik untuk berbuat mesum lalu dia menolak seraya berkata, “Aku takut kepada Allah,” (6)seorang yang bersedekah dengan diam-diam sehingga tangan kanannya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kirinya, (7) dan seseorang yang berzikir/mengingat Allah dalam keadaan sendirian hingga dia menangis.” (HR. Al-Bukhari no. 600 dan Muslim no. 1031)

7.“Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman pada hari kiamat kelak, “Mana orang-orang yang saling MENCINTAI karena keagungan-Ku? Hari ini Aku naungi mereka dalam naungan-Ku, di mana tidak ada naungan pada hari ini selain naungan-Ku.” (HR. Muslim no. 1031)

8. “Allah Azza wa Jalla berfirman, “Wajiblah cinta-Ku bagi orang-orang yang saling MENCINTAI karena Aku, orang-orang yang saling bermajelis karena Aku, orang-orang yang saling mengunjungi karena Aku, dan orang-orang yang saling berkorban karena Aku.” (HR. Malik: 2/818 dan Ahmad no. 21021)

9.“Tidaklah beriman seseorang dari kalian sehingga dia MENCINTAI untuk saudaranya sebagaimana dia mencintai untuk dirinya sendiri”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

10. “Permisalan kaum mukminin dalam hal saling mencintai, mengasihi, dan menyayangi di antara mereka bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang merintih kesakitan, maka seluruh tubuhnya akan ikut merasakannya dengan cara terjaga (tidak bisa tidur) dan panas (demam).” (HR. Muslim)

11. “Cinta karena Allahl dan benci karena Allah adalah ikatan iman yang paling kuat.” (HR. Ath-Thabarani dan dihasankan Asy-Syaikh Albani dalam Ash-Shahihah no. 998)

12. “Barangsiapa yang ingin merasakan nikmatnya iman hendaknya TIDAK mencintai seseorang kecuali karena Allah .” (HR. Ahmad. Dihasankan oleh Asy-Syaikh Albani dalam Shahihul Jami’ no. 6164)

13. Datang seseorang kepada Nabi Shallallahu 'alayhi wasallam dan berkata, “Wahai Rasulullah, seseorang mencintai satu kaum namun tidak bisa menyamai amalan mereka?” Rasulullah Shallallahu 'alayhi wasallam berkata:
الْمَرْءُ عَلَى مَنْ أَحَبَّ
“Seseorang akan bersama orang yang dicintainya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

14. “Kalian tidak akan masuk surga hingga beriman dan tidak sempurna iman kalian hingga saling mencintai. Maukah aku kabarkan satu amalan jika kalian amalkan kalian akan saling mencintai? (Yakni) Sebarkan salam di antara kalian.” (HR. Muslim no. 54)

* SAY NO TO VALENTINE's DAY !!..*
di COPAZ dari : https://www.facebook.com/ummuhana.hermi

Senin, 06 Februari 2012

Wahai bunda perhatikanlah ananda...


Klikdokter.com - Layaknya sebuah pohon, manusia merupakan salah satu mahluk yang bertumbuh kembang dan bereproduksi secara terus menerus dimana perkembangannya juga dipengaruhi oleh berbagai macam faktor luar. Begitu pun dengan bayi yang baru lahir, mereka bertumbuh kembang dengan pesat dan sangat rentan dengan lingkungan sekitar sehingga membutuhkan perlindungan lebih secara menyeluruh.
Perkembangan organ dalam bayi yang belum sempurna juga perlu menjadi perhatian khusus seperti memastikan hanya pemberian ASI ekslusif minimal 6 bulan setelah kelahiran, bahkan dianjurkan meneruskan ASI apabila ibu sanggup karena ASI telah terbukti secara nyata sebagai anti bodi bayi terhadap berbagai penyakit dikemudian hari.
Salah satu cara melihat perkembangan bayi sehat, yaitu melalui penambahan panjang dan berat tubuh dengan rata-rata kenaikan normal sebagai berikut:
  • Usia 0 – 6 bulan, bayi akan bertambah tingginya sekitar 0.5 hingga 2.5 cm perbulan diiringi dengan penambahan berat badan sekitar 140 – 200 gr. Dimana pada usia 5 bulan, berat badan bayi harus sudah dua kali lebih berat dibandingkan berat saat lahir.
  • Usia 6 – 12 bulan, bayi mampu berkembang sekitar 1cm per bulannya dengan penambahan berat badan 85 hingga 140 gr per minggu. Pada usia 1 tahun, berat badan bayi sudah mencapai 3 kali dari berat badan kelahiran.
Perkembangan bayi merupakan indikasi yang baik dalam menentukan bahwa bayi dalam keadaan sehat. Sedangkan kurang berkembang dan tidak seimbangnya pertumbuhan pada bayi, dapat dianggap sebagai masalah. Sehingga perlunya kesigapan para orang tua dalam memperhatikan, memelihara serta melindungi bayi misalkan dengan memberikan perawatan khusus akan kulit bayi yang mempunyai hubungan langsung dengan semakin memanjang dan membesarnya tubuh bayi.
Karakteristik perkembangan tubuh bayi yang perlu menjadi perhatian orang tua dalam menjaga dan memelihara dengan pemberian perawatan khusus adalah sebagai berikut:
Usia 0 – 6 bulan,
  • Kulit bayi baru lahir masih terlihat banyak lipatan-lipatan yang memungkinkan terjadinya penumpukan kotoran, sehingga perlunya perhatian khusus dalam membersihkan bagian tersebut secara rutin tanpa menyebabkan iritasi.
  • Kulit bayi yang belum beradaptasi dengan lingkungan luar yang kering dibandingkan saat mereka dikandungan, menjadikan kulit mereka rentan akan kelembaban. Terlebih lagi karena mudahnya bakteri berkembang biak pada kulit kering, sehingga perlu memastikan kulit bayi selalu tetap terjaga kelembabannya.
  • Organ dalam pada tubuh bayi masih belum berkembang dengan sempurna pada awal kelahiran, begitu pula dengan gerak refleks bayi. Salah satunya adalah ketidak mampuan bayi menutup mata sebagai tindakan pencegahan. Sehingga perlu kewaspadaan orang tua dalam menanggulangi hal tersebut misalkan dengan menggunakan formula tidak pedih dimata saat membersihkan bagian wajah bayi.
Usia 6 – 12 bulan

  • Dengan semakin sempurnanya organ dalam tubuh bayi usia 6 bulan keatas, menjadikan produksi keringat pada tubuh pun telah sempurna. Hal ini menjadikan ancaman kotoran pada kulit bayi tidak hanya karena terkontaminasi faktor luar, namun juga akibat dikeluarkannya kotoran tubuh melalui keringat. Sehingga memandikan bayi secara rutin dan menyeluruh sudah menjadi keharusan.
  • Perlunya tetap menjaga kelembaban kulit bayi yang tidak hanya terkikis oleh udara kering di sekitar namun juga akibat dari proses mandi, hingga proses terkenanya kulit secara langsung pada lantai atau benda-benda lain akibat usaha mereka untuk terus aktif dalam belajar merangkak hingga berjalan.
  • Semakin jelas kemunculan gigi susu pada bayi, juga menjadi faktor pentingnya usaha orang tua menjaga kesehatan gigi dan gusi sejak dini sehingga menjadi kuat dan tidak berlubang dengan rajin membersihkan tiap hari

Kenapa gak boleh maulidan??

Sebelum terlontar ucapan ini ----> " Ah, kenapa maulidan ga boleh, yang penting khan niat-nya baik"... 
Ada baiknya baca dulu yang ini nii....

1. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Barangsiapa yang mengadakan suatu (perkara) YANG BARU yang TIDAK ada dalam urusan (syari'at) agama kami, maka amalan itu TERTOLAK ".

Dalam riwayat Imam Muslim, “Barangsiapa mengamalkan suatu amalan yang TIDAK atas dasar urusan (syari'at) kami, maka amalan tersebut TERTOLAK".

2. dari hadits Anas Radhiyallahu 'anhu ia berkata : Rasulullah Sallallahu 'alaihi wasallam bersabda :

yang artinya : Benar-benar suatu kaum dari umatku akan ditolak dari telaga sebagaimana unta asing ditolak (dari kerumunan unta)”, maka aku berkata : “Ya Allah itu adalah umatku”, maka dikatakan : “Sesungguhnya engkau tidak mengetahui apa yang mereka ADA-ADAKAN sepeninggalmu”. [Hadits riwayat Bukhari dan Muslim]

3. Imam Malik -rahimahullah- berkata : 

“Barangsapa berbuat suatu perkara baru (kebid’ahan) dalam agama Islam yang ia PANDANG BAIK maka sungguh ia menyangka bahwa Muhammad telah mengkhianati risalah, karena Allah berfirman : “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni`mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu”(Al Maidah 3). Maka apa saja yang pada WAKTU ITU BUKAN agama, maka tidaklah pula pada hari ini dianggap sebagai agama, dan tidak akan baik akhir umat ini melainkan dengan apa yang baik pada umat yang awal (para sahabat).”

4. Abu Musa Al As’ari Radhiyallahu 'anhu memasuki masjid Kufah, lalu didapatinya di masjid tersebut terdapat sejumlah orang membentuk halaqah-halaqah (duduk berkeliling). Pada setiap halaqah terdapat seorang Syaikh, dan didepan mereka ada tumpukan kerikil, lalu Syaikh tersebut menyuruh mereka (yang duduk di halaqah) : “Bertasbihlah (ucapkan subhanallah) seratus kali!”, lalu mereka pun bertasbih (menghitung) dengan kerikil tersebut. Lalu Syaikh itu berkata kepada mereka lagi : “Bertahmidlah (ucapkan alhamdulillah) seratus kali!” dan demikianlah seterusnya ……

Maka Abu Musa Radhiyallahu 'anhu mengingkari hal itu dalam hatinya dan ia tidak mengingkari dengan lisannya. Hanya saja ia bersegera pergi dengan berlari kecil menuju rumah Abdullah bin Mas’ud, lalu iapun mengucapkan salam kepada Abdullah bin Mas’ud, dan Abdullah bin mas’ud pun membalas salamnya. Berkatalah Abu Musa kepada Ibnu Mas’ud : “Wahai Abu Abdurrahman, sungguh baru saja saya memasuki masjid, lalu aku melihat sesuatu yang aku mengingkarinya, demi Allah tidaklah saya melihat melainkan kebaikan. Lalu Abu Musa menceritakan keadaan halaqah dzikir tersebut.

Maka berkatalah Ibnu Mas’ud kepada Abu Musa : “Apakah engkau memerintahkan mereka untuk menghitung kejelekan-kejelekan mereka? Dan engkau memberi jaminan mereka bahwa kebaikan-kebaikan mereka tidak akan hilang sedikitpun?!” Abu Musa pun menjawab : “ Aku tidak memerintahkan suatu apapun kepada mereka”. Berkatalah Ibnu Mas’ud : “Mari kita pergi menuju mereka”.

Lalu Abu Mas’ud mengucapkan salam kepada mereka. Dan mereka membalas salamnya. Berkatalah Ibnu Mas’ud :“Perbuatan apa yang aku lihat kalian melakukannya ini wahai Umat Muhammad?” mereka menjawab : “Wahai Abu Abdurrahman, ini adalah kerikil yang digunakan untuk menghitung tasbih, tahmid, dan tahlil, dan takbir”. Maka berkatalah Ibnu Mas’ud : “Alangkah cepatnya kalian binasa wahai Umat Muhammad, (padahal) para sahabat masih banyak yang hidup, dan ini pakaiannya belum rusak sama sekali, dan ini bejananya belum pecah, ataukah kalian ingin berada diatas agama yang lebih mendapat petunjuk dari agama Muhammad ? ataukah kalian telah membuka pintu kesesatan? Mereka pun menjawab : “Wahai Abu Abdurrahman, demi Allah tidaklah kami menginginkan MELAINKAN KEBAIKAN”. Abu Mas’ud pun berkata :

"Berapa banyak orang yang menginginkan KEBAIKAN akan tetapi mereka TIDAK mendapatkannya”.

Berkata Amru bin Salamah : “Sungguh aku telah melihat umumnya mereka yang mengadakan majelis dzikir itu memerangi kita pada hari perang “An Nahrawan” bersama kaum Khawarij”. (Riwayat Darimi dengan sanad shahih)

5. Diantara kaidah ahli ilmu yang telah ma’ruf ialah bahwa “Perbuatan baik ialah yang dipandang baik oleh syari’at dan perbuatan buruk ialah apa yang dipandang buruk oleh syari’at.”
[Tanbîhu Ulil Abshâr, Syaikh Shâlih as-Suhaimi.]

*semoga bisa menjadi pencerahan & jalan hidayah untuk kita semua.. Wallahu ta'ala a'lam..*
sumber: status facebook ukhti hermi putriati di https://www.facebook.com/ummuhana.hermi/posts/351436101540741

Jumat, 27 Januari 2012

Jurus Jitu Mendidik Anak


Ada tulisan menarik mengenai kiat dan cara mendidik anak yang ditulis oleh Ustadz Abdullah Zaen Lc. M.A. dan disebarluaskan dalam bentuk ebook oleh yufid.com mesin pencari ilmu Islam. Mungkin ini adalah artikel terpanjang dan menyalahi kebiasaan tulisan di blog ini yang ringkas,  namun melihat pembahasannya yang sangat penting dan menarik maka saya postingkan di blog ini. Semoga memberi manfaat bagi para pembaca yang sudah memiliki anak atau pun yang baru mau memiliki anak.*


PROLOG

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga dan para sahabatnya.
Di bulan Ramadhan tahun ini (1432 H, ed.), kami mendapat amanah untuk mengimami shalat Tarawih dan Subuh di Masjid Agung Darussalam Purbalingga selama lima hari. Masih dalam rangkaiannya, kami ditugaskan untuk memberikan kuliah Tarawih dan kuliah Subuh. Kebetulan materi pengajian Tarawih seputar pilar-pilar penting dalam mendidik anak. Karena banyaknya permintaan dari jama’ah, bahan materi tersebut kami kumpulkan dalam bentuk makalah yang kami beri judul “Jurus Jitu Mendidik Anak”. Tentu masih terlalu jauh dari format sempurna, namun semoga yang sederhana ini bisa bermanfaat bagi kita semua.
Tidak lupa kami ucapkan terima kasih kepada seluruh pihak -yang tidak bisa kami sebutkan satu persatu- yang turut andil dalam amal salih ini. Tegur sapa para pembaca kami nantikan. Selamat menelaah!

JURUS PERTAMA: MENDIDIK ANAK PERLU ILMU

Ilmu merupakan kebutuhan primer setiap insan dalam setiap lini kehidupannya, termasuk dalam mendidik anak. Bahkan kebutuhan dia terhadap ilmu dalam mendidik anak, melebihi kebutuhannya terhadap ilmu dalam menjalankan pekerjaannya. Namun, realita berkata lain. Rupanya tidak sedikit di antara kita mempersiapkan ilmu untuk kerja lebih banyak daripada ilmu untuk menjadi orangtua. Padahal tugas kita menjadi orangtua dua puluh empat jam sehari semalam, termasuk saat tidur, terjaga serta antara sadar dan tidak. Sementara tugas kita dalam pekerjaan, hanya sebatas jam kerja.
Betapa banyak suami yang menyandang gelar bapak hanya karena istrinya melahirkan. Sebagaimana banyak wanita disebut ibu semata-mata karena dialah yang melahirkan. Bukan karena mereka menyiapkan diri menjadi orangtua. Bukan pula karena mereka memiliki kepatutan sebagai orangtua. Padahal, menjadi orangtua harus berbekal ilmu yang memadai.
Sekadar memberi mereka uang dan memasukkan di sekolah unggulan, tak cukup untuk membuat anak kita menjadi manusia unggul. Sebab, sangat banyak hal yang tidak bisa dibeli dengan uang. Uang memang bisa membeli tempat tidur yang mewah, tetapi bukan tidur yang lelap. Uang bisa membeli rumah yang lapang, tetapi bukan kelapangan hati untuk tinggal di dalamnya. Uang juga bisa membeli pesawat televisi yang sangat besar untuk menghibur anak, tetapi bukan kebesaran jiwa untuk memberi dukungan saat mereka terempas. Betapa banyak anak-anak yang rapuh jiwanya, padahal mereka tinggal di rumah-rumah yang kokoh bangunannya. Mereka mendapatkan apa saja dari orangtuanya, kecuali perhatian, ketulusan dan kasih sayang!

Ilmu Apa Saja yang Dibutuhkan?

Banyak jenis ilmu yang dibutuhkan orangtua dalam mendidik anaknya. Mulai dari ilmu agama dengan berbagai variannya, hingga ilmu cara berkomunikasi dengan anak.
Jenis ilmu agama pertama dan utama yang harus dipelajari orangtua adalah akidah. Sehingga ia bisa menanamkan akidah yang lurus dan keimanan yang kuat dalam jiwa anaknya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mencontohkan bagaimana membangun pondasi tersebut dalam jiwa anak, dalam salah satu sabdanya untuk Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma,
إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلْ اللَّهَ وَ إِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِالله
“Jika engkau memohon, mohonlah kepada Allah. Dan jika engkau meminta pertolongan, mintalah kepada Allah.” (H.R. Tirmidzi dan beliau berkomentar, “Hasan sahih”).
Selanjutnya ilmu tentang cara ibadah, terutama shalat dan cara bersuci. Demi merealisasikan wasiat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk para orangtua,
مُرُوا أَوِلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْر
“Perintahkanlah anak-anak kalian untuk shalat saat berumur tujuh tahun, dan pukullah jika enggan saat mereka berumur sepuluh tahun.” (H.R. Abu Dawud dan dinilai sahih oleh Syaikh al-Albani).
Bagaimana mungkin orangtua akan memerintahkan shalat pada anaknya, jikalau ia tidak mengerti tatacara shalat yang benar. Mampukah orang yang tidak mempunyai sesuatu, untuk memberikan sesuatu kepada orang lain?
Berikutnya ilmu tentang akhlak, mulai adab terhadap orangtua, tetangga, teman, tidak lupa adab keseharian si anak. Bagaimana cara makan, minum, tidur, masuk rumah, kamar mandi, bertamu dan lain-lain. Dalam hal ini Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mempraktikkannya sendiri, antara lain ketika beliau bersabda menasihati seorang anak kecil,
يَاغُلَامُ سَمِّ اللَّهَ وَكُلْ بِيَمِينِكَ
“Nak, ucapkanlah bismillah (sebelum engkau makan) dan gunakanlah tangan kananmu.” (H.R. Bukhari dan Muslim dari Umar bin Abi Salamah)
Yang tidak kalah pentingnya adalah: ilmu seni berinteraksi dan berkomunikasi dengan anak. Bagaimana kita menghadapi anak yang hiperaktif atau sebaliknya pendiam. Bagaimana membangun rasa percaya diri dalam diri anak. Bagaimana memotivasi mereka untuk gemar belajar. Bagaimana menumbuhkan bakat yang ada dalam diri anak kita. Dan berbagai konsep-konsep dasar pendidikan
anak lainnya.

Ayo Belajar!

Semoga pemaparan singkat di atas bisa menggambarkan pada kita urgensi ilmu dalam mendidik anak. Sehingga diharapkan bisa mendorong kita untuk terus mengembangkan diri, meningkatkan pengetahuan kita, menghadiri majlis taklim, membaca buku-buku panduan pendidikan. Agar kita betul-betul menjadi orangtua yang sebenarnya, bukan sekedar orang yang lebih tua dari anaknya!

JURUS KEDUA: MENDIDIK ANAK PERLU KESALIHAN ORANG TUA

Tentu Anda masih ingat kisah ‘petualangan’ Nabi Khidir dengan Nabi Musa ‘alaihimas salam. Ya, di antara penggalan kisahnya adalah apa yang Allah sebutkan dalam surat al-Kahfi. Manakala mereka berdua memasuki suatu kampung dan penduduknya enggan untuk sekadar menjamu mereka berdua. Sebelum meninggalkan kampung tersebut, mereka menemukan rumah yang hampir ambruk. Dengan ringan tangan Nabi Khidir memperbaiki tembok rumah tersebut, tanpa meminta upah dari penduduk kampung. Nabi Musa terheran-heran melihat tindakannya. Nabi Khidir pun beralasan, bahwa rumah tersebut milik dua anak yatim dan di bawahnya terpendam harta peninggalan orang tua mereka yang salih. Allah berkehendak menjaga harta tersebut hingga kedua anak tersebut dewasa dan
mengambil manfaat dari harta itu.
Para ahli tafsir menyebutkan, bahwa di antara pelajaran yang bisa dipetik dari kisah di atas adalah: Allah akan menjaga keturunan seseorang manakala ia salih, walaupun ia telah meninggal dunia sekalipun.[1]
Subhânallâh, begitulah dampak positif kesalihan orang tua! Sekalipun telah meninggal dunia masih tetap dirasakan oleh keturunannya. Bagaimana halnya ketika ia masih hidup?? Tentu lebih besar dan lebih besar lagi dampak positifnya.

Urgensi Kesalihan Orang Tua dalam Mendidik Anak

Kita semua mempunyai keinginan dan cita-cita yang sama. Ingin agar keturunan kita menjadi anak yang salih dan salihah. Namun, terkadang kita lupa bahwa modal utama untuk mencapai cita-cita mulia tersebut ternyata adalah: kesalihan dan ketakwaan kita selaku orang tua. Alangkah lucunya, manakala kita berharap anak menjadi salih dan bertakwa, sedangkan kita sendiri berkubang dalam maksiat dan dosa!
Kesalihan jiwa dan perilaku orangtua mempunyai andil yang sangat besar dalam membentuk kesalihan anak. Sebab ketika si anak membuka matanya di muka bumi ini, yang pertama kali ia lihat adalah ayah dan bundanya. Manakala ia melihat orangtuanya berhias akhlak mulia serta tekun beribadah, niscaya itulah yang akan terekam dengan kuat di benaknya. Dan insya Allah itupun juga yang akan ia praktekkan dalam kesehariannya. Pepatah mengatakan, “buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya”. Betapa banyak ketakwaan pada diri anak disebabkan ia mengikuti ketakwaan kedua orangtuanya atau salah seorang dari mereka. Ingat karakter dasar manusia, terutama anak kecil, yang suka meniru!

Beberapa Contoh Aplikasi Nyatanya

Manakala kita menginginkan anak kita rajin untuk mendirikan shalat lima waktu, gamitlah tangannya dan berangkatlah ke masjid bersama. Bukan hanya dengan berteriak memerintahkan anak pergi ke masjid, sedangkan Anda asyik menonton televisi.
Jika Anda berharap anak rajin membaca al-Quran, ramaikanlah rumah dengan lantunan ayat-ayat suci al-Quran yang keluar dari lisan ayah, ibu ataupun kaset dan radio. Jangan malah Anda menghabiskan hari-hari dengan membaca koran, diiringi lantunan langgam gendingan atau suara biduanita yang mendayu-dayu!
Kalau Anda menginginkan anak jujur dalam bertutur kata, hindarilah berbohong sekecil apapun. Tanpa disadari, ternyata sebagai orang tua kita sering membohongi anak untuk menghindari keinginannya. Salah satu contoh pada saat kita terburu-buru pergi ke kantor di pagi hari, anak kita meminta ikut atau mengajak jalan-jalan mengelilingi perumahan. Apa yang kita lakukan? Apakah kita menjelaskannya dengan kalimat yang jujur? Atau kita lebih memilih berbohong dengan mengatakan, “Bapak hanya sebentar kok, hanya ke depan saja ya. Sebentaaar saja ya sayang…” Tapi ternyata, kita malah pulang malam!
Dalam contoh di atas, sejatinya kita telah berbohong kepada anak, dan itu akan ditiru olehnya. Terus apa yang sebaiknya kita lakukan? Berkatalah dengan jujur kepada anak. Ungkapkan dengan lembut dan penuh kasih serta pengertian, “Sayang, bapak mau pergi ke kantor. Kamu tidak bisa ikut. Tapi kalo bapak ke kebun binatang, insya Allah kamu bisa ikut.”
Kita tak perlu merasa khawatir dan menjadi terburu-buru dengan keadaan ini. Pastinya akan membutuhkan waktu lebih untuk memberi pengertian kepada anak karena biasanya mereka menangis. Anak menangis karena ia belum memahami keadaan mengapa orang tuanya harus selalu pergi di pagi hari. Kita perlu bersabar dan melakukan pengertian kepada mereka secara terus menerus. Perlahan anak akan memahami mengapa orang tuanya selalu pergi di pagi hari dan bila pergi bekerja, anak tidak bisa ikut.
Anda ingin anak jujur? Mulailah dari diri Anda sendiri!

Sebuah Renungan Penutup

Tidak ada salahnya kita putar ingatan kepada beberapa puluh tahun ke belakang, saat sarana informasi dan telekomunikasi masih amat terbatas, lalu kita bandingkan dengan zaman ini dan dampaknya yang luar biasa untuk para orang tua dan anak.
Dulu, masih banyak ibu-ibu yang rajin mengajari anaknya mengaji, namun sekarang mereka telah sibuk dengan acara televisi. Dahulu ibu-ibu dengan sabar bercerita tentang kisah para nabi, para sahabat hingga teladan dari para ulama, sekarang mereka lebih nyaman untuk menghabiskan waktu ber-facebook-an dan akrab dengan artis di televisi. Dulu bapak-bapak mengajari anaknya sejak dini tatacara wudhu, shalat dan ibadah primer lainnya, sekarang mereka sibuk mengikuti berita transfer pemain bola!
Bagaimana kondisi anak-anak saat ini, dan apa yang akan terjadi di negeri kita lima puluh tahun ke depan, jika kondisi kita terus seperti ini?? Jika kita tidak ingin menjumpai mimpi buruk kehancuran negeri ini, persiapkan generasi muda sejak sekarang. Dan untuk merealisasikan itu, mulailah dengan memperbaiki diri kita sendiri selaku orangtua! Sebab mendidik anak memerlukan kesalihan orangtua.
Semoga Allah senantiasa meridhai setiap langkah baik kita, amien…

JURUS KETIGA: MENDIDIK ANAK PERLU KEIKHLASAN

Ikhlas merupakan ruh bagi setiap amalan. Amalan tanpa disuntik keikhlasan bagaikan jasad yang tak bernyawa. Termasuk jenis amalan yang harus dilandasi keikhlasan adalah mendidik anak. Apa maksudnya?
Maksudnya adalah: Rawat dan didik anak dengan penuh ketulusan dan niat ikhlas semata-mata mengharapkan keridhaan Allah ta’ala.
Canangkan niat semata-mata untuk Allah dalam seluruh aktivitas edukatif, baik berupa perintah, larangan, nasehat, pengawasan maupun hukuman. Iringilah setiap kata yang kita ucapkan dengan keikhlasan..
Bahkan dalam setiap perbuatan yang kita lakukan untuk merawat anak, entah itu bekerja membanting tulang guna mencari nafkah untuknya, menyuapinya, memandikannya hingga mengganti popoknya, niatkanlah semata karena mengharap ridha Allah.

Apa Sih Kekuatan Keikhlasan?

Ikhlas memiliki dampak kekuatan yang begitu dahsyat. Di antaranya:
1. Dengan ketulusan, suatu aktivitas akan terasa ringan
Proses membuat dan mendidik anak, mulai dari mengandung, melahirkan, menyusui, merawat, membimbing hingga mendidik, jelas membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Puluhan tahun! Tentu di rentang waktu yang cukup panjang tersebut, terkadang muncul dalam hati rasa jenuh dan kesal karena ulah anak yang kerap menjengkelkan. Seringkali tubuh terasa super capek karena banyaknya pekerjaan; cucian yang menumpuk, berbagai sudut rumah yang sebentar-sebentar perlu dipel karena anak ngompol di sana sini dan tidak ketinggalan mainan yang selalu berserakan dan berantakan di mana-mana. Anda ingin seabreg pekerjaan itu terasa ringan? Jalanilah dengan penuh ketulusan dan keikhlasan! Sebab seberat apapun pekerjaan, jika dilakukan dengan ikhlas insya Allah akan terasa ringan, bahkan menyenangkan. Sebaliknya, seringan apapun pekerjaan, kalau dilakukan dengan keluh kesah pasti akan terasa seberat gunung dan menyebalkan.
2. Dengan keikhlasan, ucapan kita akan berbobot
Sering kita mencermati dan merasakan bahwa di antara kata-kata kita, ada yang sangat membekas di dada anak-anak yang masih belia hingga mereka dewasa kelak. Sebaliknya, tak sedikit ucapan yang bahkan kita teriakkan keras-keras di telinganya, ternyata berlalu begitu saja bagai angin malam yang segera hilang kesejukannya begitu mentari pagi bersinar. Apa yang membedakan? Salah satunya adalah kekuatan yang menggerakkan kata-kata kita. Jika Engkau ucapkan kata-kata itu untuk sekadar meluapkan amarah, maka anak-anak itu akan mendengarnya sesaat dan sesudah itu hilang tanpa bekas. Namun jika Engkau ucapkan dengan sepenuh hati sambil mengharapkan turunnya hidayah untuk anak-anak yang Engkau lahirkan dengan susah payah itu, insya Allah akan menjadi perkataan yang berbobot. Sebab bobot kata-kata kita kerap bersumber bukan dari manisnya tutur kata, melainkan karena kuatnya penggerak dari dalam dada; iman kita dan keikhlasan kita…
3. Dengan keikhlasan anak kita akan mudah diatur
Jangan pernah meremehkan perhatian dan pengamatan anak kita. Anak yang masih putih dan bersih dari noda dosa akan begitu mudah merasakan suasana hati kita. Dia bisa membedakan antara tatapan kasih sayang dengan tatapan kemarahan, antara dekapan
ketulusan dengan pelukan kejengkelan, antara belaian cinta dengan cubitan kesal. Bahkan ia pun bisa menangkap suasana hati orang tuanya, sedang tenang dan damaikah, atau sedang gundah gulana?
Manakala si anak merasakan ketulusan hati orangtuanya dalam setiap yang dikerjakan, ia akan menerima arahan dan nasihat yang disampaikan ayah dan bundanya, karena ia menangkap bahwa segala yang disampaikan padanya adalah semata demi kebaikan dirinya.
4. Dengan keikhlasan kita akan memetik buah manis pahala
Keikhlasan bukan hanya memberikan dampak positif di dunia, namun juga akan membuahkan pahala yang amat manis di alam sana. Yang itu berujung kepada berkumpulnya orangtua dengan anak-anaknya di negeri keabadian; surga Allah yang penuh dengan keindahan dan kenikmatan.
وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ
Artinya: “Orang-orang yang beriman, beserta anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, Kami akan pertemukan mereka dengan anak cucu mereka.” (Q.S. Ath-Thur: 21)
Dipertemukan di mana?
Di surga Allah Jalla wa  ’Ala![2]

Mulailah dari Sekarang!

Latih dan biasakan diri untuk ikhlas dari sekarang, sekecil apapun perbuatan yang kita lakukan.
Kalau Engkau bangun di tengah malam untuk membuatkan susu buat anakmu, aduklah ia dengan penuh keikhlasan sambil mengharap agar setiap tetes yang masuk kerongkongannya akan menyuburkan setiap benih kebaikan dan menyingkirkan setiap bisikan yang buruk.
Kalau Engkau menyuapkan makanan untuknya, suapkanlah dengan penuh keikhlasan sembari memohon kepada Allah agar setiap makanan yang mengalirkan darah di tubuh mereka akan mengokohkan tulang-tulang mereka, membentuk daging mereka dan membangkitkan jiwa mereka sebagai penolong-penolong agama Allah. Sehingga dengan itu, semoga setiap suapan yang masuk ke mulut mereka akan membangkitkan semangat dan meninggikan martabat. Mereka akan bersemangat untuk senantiasa menuntut ilmu,
beribadah dengan tekun kepada Allah dan meninggikan agama-Nya. Amîn yâ mujîbas sâ’ilîn…

JURUS KEEMPAT: MENDIDIK ANAK PERLU KESABARAN

Sabar merupakan salah satu syarat mutlak bagi mereka yang ingin berhasil mengarungi kehidupan di dunia. Kehidupan yang tidak lepas dari susah dan senang, sedih dan bahagia, musibah dan nikmat, menangis dan tertawa, sakit dan sehat, lapar dan kenyang, rugi dan untung, miskin dan kaya, serta mati dan hidup.
Di antara episode perjalanan hidup yang membutuhkan kesabaran ekstra adalah masa-masa mendidik anak. Sebab rentang waktunya tidak sebentar dan seringkali anak berperilaku yang tidak sesuai dengan harapan kita.

Contoh Aplikasi Kesabaran

1. Sabar dalam membiasakan perilaku baik terhadap anak
Anak bagaikan kertas yang masih putih, tergantung siapa yang menggoreskan lukisan di atasnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan hal itu dalam sabdanya,
مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوِ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمجِّسَانِهِ
“Setiap bayi lahir dalam keadaan fitrah. Orang tuanya lah yang akan menjadikan ia Yahudi, Nasrani atau Majusi.” (H.R. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu)
Andaikan sejak kecil anak dibiasakan berperilaku baik, mulai dari taat beribadah hingga adab mulia dalam keseharian, insya Allah hal itu akan sangat membekas dalam dirinya. Sebab mendidik di waktu kecil bagaikan mengukir di atas batu. Mengukir di atas batu membutuhkan kesabaran dan keuletan, namun jika ukiran tersebut telah jadi niscaya ia akan awet dan tahan lama.
2. Sabar dalam menghadapi pertanyaan anak
Menghadapi pertanyaan anak, apalagi yang baru saja mulai tumbuh dan menginginkan untuk mengetahui segala sesuatu yang ia lihat, memerlukan kesabaran yang tidak sedikit. Terkadang timbul rasa jengkel dengan pertanyaan anak yang tidak ada habis-habisnya, hingga kerap kita kehabisan kata-kata untuk menjawab pertanyaannya.
Sesungguhnya kesediaan anak untuk bertanya kepada kita, ‘seburuk’ apa pun pertanyaan yang ia lontarkan, merupakan pertanda bahwa mereka memberikan kepercayaannya kepada kita untuk menjawab. Maka jalan terbaik adalah menghargai kepercayaannya dengan tidak mematikan kesediaannya untuk bertanya, serta memberikan jawaban yang mengena dan menghidupkan jiwa. Jika kita ogah-ogahan untuk menjawab pertanyaan anak atau menjawab sekenanya atau bahkan justru menghardiknya, hal itu bisa berakibat fatal. Anak tidak lagi percaya dengan kita, sehingga ia akan mencari orang di luar rumah yang dianggapnya bisa memuaskan pertanyaan-pertanyaan dia. Dan tidak ada yang bisa menjamin bahwa orang yang ditemuinya di luar adalah orang baik-baik!
Ingat betapa rusaknya pergaulan di luar saat ini!
3. Sabar menjadi pendengar yang baik
Banyak orang tua adalah pendengar yang buruk bagi anak-anaknya. Bila ada suatu masalah yang terjadi pada anak, orangtua lebih suka menyela, langsung menasihati tanpa mau bertanya permasalahannya serta asal-usul kejadiannya.
Salah satu contoh, anak kita baru saja pulang sekolah yang mestinya siang ternyata baru pulang sore hari. Kita tidak mendapat pemberitahuan apa pun darinya atas keterlambatan tersebut. Tentu saja kita merasa kesal menunggu, sekaligus juga khawatir. Lalu pada saat anak kita sampai dan masih lelah, kita langsung menyambutnya dengan serentetan pertanyaan dan omelan. Bahkan setiap kali anak hendak berbicara, kita selalu memotongnya, dengan ungkapan, “Sudah-sudah tidak perlu banyak alasan”, atau “Ah, papa/ mama tahu kamu pasti main ke tempat itu lagi kan?!” Akibatnya, ia malah tidak mau bicara dan marah pada kita.
Pada saat seperti itu, yang sangat dibutuhkan oleh seorang anak adalah ingin didengarkan terlebih dahulu dan ingin diperhatikan. Mungkin keterlambatannya ternyata disebabkan adanya tugas mendadak dari sekolah. Ketika anak tidak diberi kesempatan untuk berbicara, ia merasa tidak dihargai dan akhirnya dia juga berbalik untuk tidak mau mendengarkan kata-kata kita.
Yang sebaiknya dilakukan adalah, kita memulai untuk menjadi pendengar yang baik. Berikan kepada anak waktu yang seluas-luasnya untuk mengungkapkan segalanya. Bersabarlah untuk tidak berkomentar sampai saatnya tiba. Ketika anak sudah selesai menjelaskan duduk permasalahan, barulah Anda berbicara dan menyampaikan apa yang ingin Anda sampaikan.
4. Sabar manakala emosi memuncak
Hendaknya kita tidak memberikan sanksi atau hukuman pada anak ketika emosi kita sedang memuncak. Pada saat emosi kita sedang tinggi, apa pun yang keluar dari mulut kita, cenderung untuk menyakiti dan menghakimi, tidak untuk menjadikan anak lebih baik.
Yang seyogyanya dilakukan adalah: bila kita dalam keadaan sangat marah, segeralah menjauh dari anak. Pilihlah cara yang tepat untuk menurunkan amarah kita dengan segera. Bisa dengan mengamalkan tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam; yakni berwudhu.
Jika kita bertekad untuk tetap memberikan sanksi, tundalah sampai emosi kita mereda. Setelah itu pilih dan susunlah bentuk hukuman yang mendidik dan tepat dengan konteks kesalahan yang diperbuatnya. Ingat, prinsip hukuman adalah untuk mendidik bukan untuk menyakiti.

Berakit-rakit ke Hulu

Pepatah Arab mengatakan, “Sabar bagaikan buah brotowali, pahit rasanya, namun kesudahannya lebih manis daripada madu”.
Sabar dalam mendidik anak memang terasa berat, namun tunggulah buah manisnya kelak di dunia maupun akhirat. Di dunia mereka akan menjadi anak-anak yang menurut kepada orangtuanya insya Allah. Dan manakala kita telah masuk di alam akhirat mereka akan terus mendoakan kita, sehingga curahan pahala terus mengalir deras. Semoga…

JURUS KELIMA: MENDIDIK ANAK PERLU IRINGAN DOA

Beberapa saat lalu saya mampir shalat Jumat di masjid salah satu perumahan di bilangan Sokaraja Banyumas. Di sela-sela khutbahnya, khatib bercerita tentang kejadian yang menimpa sepasang suami istri. Keduanya terkena stroke, namun sudah sekian bulan tidak ada satupun di antara anaknya yang datang menjenguk. Manakala dibesuk oleh si khatib, sang bapak bercerita sambil menangis terisak,
“Mungkin Allah telah mengabulkan doa saya. Sekarang inilah saya merasakan akibat dari doa saya! Dahulu saya selalu berdoa agar anak-anak saya jadi ‘orang’. Berhasil, kaya, sukses, dan seterusnya. Benar, ternyata Allah mengabulkan seluruh permintaan saya. Semua anak saya sekarang menjadi orang kaya dan berhasil. Mereka tinggal di berbagai pulau di tanah air, jauh dari saya. Memang
mereka semua mengirimkan uang dalam jumlah yang tidak sedikit dan semua menelpon saya untuk segera berobat. Namun, bukan itu yang saya butuhkan saat ini. Saya ingin belaian kasih sayang tangan mereka. Saya ingin dirawat dan ditunggu mereka, sebagaimana dulu saya merawat mereka.”
Ya, berhati-hatilah Anda dalam memilih redaksi doa, apalagi jika itu ditujukan untuk anak Anda. Tidak ada redaksi yang lebih baik dibandingkan redaksi doa yang diajarkan dalam al-Quran dan Hadits“Rabbanâ hablanâ min azwâjinâ wa dzurriyyâtinâ qurrata a’yun, waj’alnâ lil muttaqîna imâmâ” (Wahai Rabb kami, karuniakanlah pada kami pasangan dan keturunan yang menyejukkan
pandangan mata. Serta jadikanlah kami imam bagi kaum muttaqin). (Q.S. Al-Furqan: 74)

Seberapa Besar Sih Kekuatan Doa?

Sebesar apapun usaha orangtua dalam merawat, mendidik, menyekolahkan dan mengarahkan anaknya, andaikan Allah ta’ala tidak berkenan untuk menjadikannya anak salih, niscaya ia tidak akan pernah menjadi anak salih. Hal ini menunjukkan betapa besar kekuasaan Allah dan betapa kecilnya kekuatan kita. Ini jelas memotivasi kita untuk lebih membangun ketergantungan dan rasa tawakkal kita kepada Allah Jalla wa ‘Ala. Dengan cara, antara lain, memperbanyak menghiba, merintih, memohon bantuan dan pertolongan dari Allah dalam segala sesuatu, terutama dalam hal mendidik anak.
Secara khusus, doa orangtua untuk anaknya begitu spesial. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan hal itu dalam sabdanya,
ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لَا شَكَّ فِيهِنَّ دَعْوَةُ الْوَالِدِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ
“Tiga doa yang akan dikabulkan tanpa ada keraguan sedikitpun. Doa orangtua, doa musafir dan doa orang yang dizalimi.” (H.R. Abu Dawud dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu dan dinyatakan hasan oleh Syaikh al-Albani)

Sejak Kapan Kita Mendoakan Anak Kita?

Sejak Anda melakukan proses hubungan suami istri telah disyariatkan untuk berdoa demi kesalihan anak Anda. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan,
إِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا أَتَى أَهْلَهُ وَقَالَ: “بِسْمِ اللَّهِ اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبْ الشَّيْطَانَ مَارَزَقْتَنَا” فَرُزِقَا وَلَدًا لَمْ يَضُرَّهُ الشَّيْطَانُ
“Jika salah seorang dari kalian sebelum bersetubuh dengan istrinya ia membaca “Bismillah, allôhumma jannibnasy syaithôn wa jannibisy syaithôna mâ rozaqtanâ” (Dengan nama Allah. Ya Allah jauhkanlah kami dari setan dan jauhkanlah setan dari apa yang Engkau karuniakan pada kami), lalu mereka berdua dikaruniai anak, niscaya setan tidak akan bisa mencelakakannya.” Hadits riwayat Bukhari (hal. 668 no. 3271) dan Muslim (X/246 no. 3519) dari Ibnu Abbas.
Ketika anak telah berada di kandungan pun jangan pernah lekang untuk menengadahkan tangan dan menghadapkan diri kepada Allah, memohon agar kelak keturunan yang lahir ini menjadi generasi yang baik. Nabi Ibrahim ‘alaihis salam mencontohkan,
زَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ
“Wahai Rabbi, anugerahkanlah kepadaku (anak) yang termasuk orang-orang salih.” (Q.S. ash-Shâffât: 100).
Nabi Zakariya ‘alaihis salam juga demikian,
رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ
“Ya Rabbi, berilah aku dari sisiMu keturunan yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa.” (Q.S. Ali Imran: 38).
Setelah lahir hingga anak dewasa sekalipun, kawal dan iringilah terus dengan doa. Pilihlah waktu-waktu yang mustajab. Antara azan dengan iqamah, dalam sujud dan di sepertiga malam terakhir misalnya. Bahkan tidak ada salahnya ketika berdoa, Anda perdengarkan doa tersebut di hadapan anak Anda. Selain untuk mengajarkan doa-doa nabawi tersebut, juga agar dia melihat dan memahami betapa besar harapan Anda agar dia menjadi anak salih.

Awas, Hati-hati!

Doa orang tua itu mustajab, baik doa tersebut bermuatan baik maupun buruk. Maka berhati-hatilah wahai para orangtua. Terkadang ketika Anda marah, tanpa terasa terlepas kata-kata yang kurang baik terhadap anak Anda, lalu Allah mengabulkan ucapan tersebut, akibatnya Anda menyesal seumur hidup.
Dikisahkan ada seorang yang mengadu kepada Imam Ibn al-Mubarak mengeluhkan tentang anaknya yang durhaka. Beliau bertanya, “Apakah engkau pernah mendoakan tidak baik untuknya?”
“Ya” sahutnya.
“Engkau sendiri yang merusak anakmu,” pungkas sang Imam.
***
Pesantren Tunas Ilmu, Kedungwuluh Purbalingga, 9 Ramadhan 1432 / 9 Agustus 2011
Penulis: Ustadz Abdullah Zaen, Lc., M.A.
[1] Lihat: Tafsîr ath-Thabary (XV/366), Tafsîr al-Baghawy (V/196), Tafsîr al-Qurthuby (XIII/356), Tafsîr Ibn Katsîr
(V/186-187), Tafsîr al-Jalâlain (hal. 302-303) dan Tafsîr as-Sa’dy (hal. 435)
[2] Sebagaimana dalam penafsiran Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma yang diriwayatkan Imam al-Baihaqy dalam Kitab al-
I’tiqâd (hal. 183)